Bangka Belitung Bakal Menghadapi El Nino dan Indian Ocean Dipole, Begini Langkah yang Dilakukan BPBD Babel

- Rabu, 7 Juni 2023 | 20:57 WIB
Mikron Antariksa, Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. (ist)
Mikron Antariksa, Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. (ist)

BANGKA BELITUNG,www.wowbabel.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengumumkan bahwa Indonesia akan menghadapi dua fenomena gangguan iklim, yaitu El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD), pada bulan Juni 2023.

El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut yang melebihi kondisi normal, sedangkan IOD adalah perbedaan suhu permukaan laut antara wilayah Laut Arab (bagian barat Samudera Hindia) dan Samudera Hindia bagian timur di selatan Indonesia.

Dampak dari kedua fenomena ini adalah penurunan curah hujan di beberapa wilayah Indonesia selama musim kemarau.

Baca Juga: Waspada Bahaya Kebakaran Mengintai, BPBD Babel Gelar Sosialisasi 

Kombinasi dari kedua fenomena ini dapat menyebabkan dampak yang lebih kuat dan signifikan. Beberapa wilayah Indonesia bahkan diprediksi akan mengalami curah hujan di bawah normal atau lebih kering dari kondisi normalnya.

Tidak dapat dihindari, Bangka Belitung juga akan merasakan dampak dari fenomena ini. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung akan berperan dalam penanganan dampak yang terjadi.

Mikron Antariksa, Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, telah mengambil langkah-langkah untuk berkoordinasi dengan berbagai pihak guna mengatasi situasi ini.

"Mengenai fenomena alam ini, kami telah berkoordinasi dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Babel di sektor pertanian untuk mengatasi kekeringan lahan. Dinas Pertanian telah menyiapkan lumbung dan pupuk yang tahan terhadap kekeringan selama tiga bulan ke depan," jelas Mikron.

Baca Juga: Sepanjang 50 Meter di Bibir Pantai Asmara Muntok Alami Abarasi, BPBD Bangka Barat Akan Lakukan Ini

Selain Dinas Pertanian, koordinasi juga dilakukan dengan pemerintah kabupaten dan kota. Koordinasi ini difokuskan pada penyediaan air bersih bagi pemukiman warga.

"Kami telah berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten dan kota untuk menyediakan mobil tangki yang akan mendistribusikan air bersih yang layak konsumsi jika PDAM tidak dapat beroperasi secara maksimal," tutur Mikron.

Mikron juga menyoroti masalah kebakaran hutan, yang tidak bisa diabaikan dalam kondisi kekeringan seperti ini. Saat ini, titik-titik api sudah terdeteksi di Bangka Belitung, meskipun masih dapat dikendalikan.

Mikron juga mengungkapkan bahwa saat ini terdapat titik-titik api, tetapi masih dalam skala kecil di bawah lima hektar. Kebakaran ini disebabkan oleh masyarakat yang membuka lahan, terutama di daerah Bangka Barat.

"Oleh karena itu, kami telah membentuk Satuan Karhutla dan Kekeringan untuk mengatasi gangguan iklim ini, dan kami juga telah memberikan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat," tambahnya.(*)

Halaman:

Editor: Barly Wow

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X