Relevansi Film Monumental Germinal Terhadap Buruh Kasar Sekarang

Jurnalis_Warga    •    Senin, 02 Mei 2022 | 05:47 WIB
Opini
Ricky Kuswanda (Mahasiswa Universitas Bangka Belitung, Prodi Ilmu Politik).(ist)
Ricky Kuswanda (Mahasiswa Universitas Bangka Belitung, Prodi Ilmu Politik).(ist)

Oleh: Ricky Kuswanda (Mahasiswa Universitas Bangka Belitung, Prodi Ilmu Politik)


Dalam peringatan Hari Buruh Internasional, kita memiliki keunikan masing-masing sebagai tujuan merefleksikannya. Cara pemaknaan ini, meskipun berbeda skala pengaruh dan relevansi, mata kita tentunya sama-sama menatap galak terhadap hubungan sosial produksi kapitalis yang sarat akan penghisapan kelas buruh yang bergantung pada sistem kerja-upahan. 

Motivasi utama kapitalis dalam reproduksi total yang tidak lain adalah akumulasi kapital sebesar-besarnya bagaikan rantai yang membelenggu buruh sedunia pada lumpur keterbatasan. Sejak dahulu hingga sekarang. Dalam konteks film epik Perancis yang disutradai Claude Berri berjudul “Germinal” dan tayang pada tahun 1993, nuansa di dalamnya masih terasa di zaman kita yang disebut-sebut paling modern dan penuh kreasi inovatif. Film yang diadaptasi dari novel karya Emile Zola terbitan tahun 1884 ini sekiranya memang tampak usang dengan visualisasi yang sederhana. Latarnya pun menggambarkan suasana abad ke-19. Namun siapa sangka, realitasnya tidak pernah lapuk oleh zaman.

Potret Kemiskinan Buruh Tambang Batu Bara Le Voreux

Etienne Lantier datang pertama kali ke lokasi tambang batu bara Le Voreux untuk mencari pekerjaan sebagai penambang, yang lalu disambut baik oleh rekannya kemudian hari bernama Maheu. Tanpa alat-alat keamanan, mereka bersama buruh lainnya turun membawa kapak ke lubang tambang. Di bawah waktu kerja yang panjang, buruh yang juga diisi oleh perempuan dan anak-anak memasuki ruangan yang jauh dari kata layak; mendorong gerobak bermuatan batu bara dan mengeruk batu bara dengan daya ekstra. Alih-alih disesuaikan dengan upah yang tinggi, justru mereka adalah martir yang selalu ditekan oleh mandor yang siap memotong upahnya jika membangkang.

Lingkungan kerja yang kumuh tidak dapat dihindari juga di lingkungan fasilitas perumahan dengan kondisi yang serupa. Etienne yang sebelumnya menyewa kamar dengan dana kredit, akhirnya memilih bergabung bersama Maheu di rumah fasilitas perusahaan. Di rumah yang kini berjumlah 7 anggota keluarga, kita akan diperlihatkan pada urusan mandi melalui pergantian orang dalam satu bak mandi yang sama. Andalan reproduksi diri mereka hanyalah sup, potongan roti dan kopi—satu porsi bahkan untuk dua orang—yang terkadang didapatkan dari hutang kepada penjual terdekat.

Tidak salah lagi, mereka adalah pekerja tambang batu bara yang disituasikan miskin dan semakin menjauh dari sinar kesejahteraan. Kemiskinan adalah kabut yang menyertai dingin di setiap gerak dan rehat mereka. Meskipun berada di bawah keterpaksaan, nanti kita akan melihat bahwa masih muncul setitik kemenangan bagi mereka.

Kapitalis Berselimut Kekayaan Tenaga Kerja

“Germinal” berhasil mengontradiksikan antara situasi kapitalis dan buruh dengan tajam. Berbeda dari sebelumnya, kapitalis adalah kelas yang bersifat antagonis, dan hidup dari kelaparan buruh yang bekerja untuknya. Berbagai ironi ditampilkan dalam bentuk pranata kepemilikan pribadi kapitalis dan sistem kerja-upahan rendah. Sebagai contoh, pekerjaan di luar aktivitas produksi batu bara seperti penebangan dan pemasangan kayu demi penyangga poros tidak dihitung sebagai pengeluaran modal kapitalis, tetapi dipungut dari upah seluruh buruh tambang. Dengan kata lain, upah mereka terpotong untuk tanggungjawab yang seharusnya dipenuhi oleh pemilik lubang tambang. Jelas saja apabila kapitalis mengeluarkan biaya perawatan gedung, walau berimplikasi terhadap keselamatan kerja buruh, itu akan mengurangi jumlah laba yang masuk ke dalam pembukuan mereka. Alias merugi hanya demi membantu buruh.

Di samping harus mereproduksi kapital sebagai tujuan akumulasi laba sebesar-besarnya, kapitalis ini juga harus tampil glamour dan mewah. Sebagaimana fragmen-fragmen yang menampilkannya, selalu terhias balutan busana mahal dalam suasana pesta atau jamuan makan yang meriah—kontras dengan pakaian buruh yang kusut dan kotor. Semua itu adalah simbol kemewahan. Selain itu, topik pembicaraan mereka dekat sekali dengan tema-tema yang menyenangkan dan menghindari keprihatinan terhadap kondisi buruh upahannya—sebaliknya, kalimat yang terlontar dari mulut buruh adalah “Kami lapar dan Lelah menjadi miskin!”.



BACA JUGA
MEDSOS WOWBABEL