Lebaran dan Harga Bahan Pokok yang Melambung

Jurnalis_Warga    •    Senin, 25 April 2022 | 13:33 WIB
Opini
Caption: Adilla Naura Ramadhini, Mahasiswa Universitas Negeri Malang. (IST)
Caption: Adilla Naura Ramadhini, Mahasiswa Universitas Negeri Malang. (IST)

Oleh: Adilla Naura Ramadhini (Mahasiswa Universitas Negeri Malang)

Hari Raya Idul Fitri 1443 H sudah semakin dekat, umat muslim pun mulai berbelanja, seperti berbelanja baju lebaran ataupun berbelanja sejumlah bahan pokok untuk merayakan hari Kemenangan mereka. Dengan melonjaknya daya beli, sejumlah bahan pokok juga mengalami kenaikan. 

Diketahui harga gula pasir naik sebesar 2,8% menjadi Rp 14.700,- per kilogramnya.  Kementerian Perdagangan (Kemendag) melaporkan daging sapi segar masih mengalami reli kenaikan harga hingga pekan kedua April 2022. Kemendag mencatat harga daging sapi segar sebesar Rp 132.300,- per kilogram atau naik 2,40%. Sementara untuk harga daging sapi beku belakangan tercatat Rp 103.500,- per kilogram atau naik 1,87%.

Laporan itu tertuang dalam Perkembangan Harga, Inflasi dan Stok Indikatif barang Kebutuhan Pokok milik Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri. Adapun harga sapi bakalan impor pada pekan ini sebesar US$4.301 per ton atau segara dengan Rp 61.776,- per kilogram.

Kemendag mengatakan reli kenaikan harga daging sapi segar dan beku saat ini disebabkan karena produksi daging sapi lokal yang masih minim sementara harga sapi impor bakalan dari Australia yang masih tinggi.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) sedang mewaspadai potensi melonjaknya permintaan masyarakat atas barang kebutuhan pokok akibat pelandaian pandemi Covid-19 pada awal tahun ini. 

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Oke Nurwan mengatakan kementeriannya khawatir pasokan Bapok yang bertopang pada aktivitas impor bakal terganggu akibat meningkatnya permintaan dalam negeri sementara harga di pasar dunia terus mengalami fluktuasi akibat sentimen geopolitik di kawasan Eropa Timur.

Berdasarkan catatan Kemendag, empat komoditas pangan dalam negeri yang bertopang pada impor mengalami kenaikan harga yang signifikan secara tahunan. Misalkan harga gandum pada perdagangan 25 Maret 2022 sudah menyentuh di angka US$399 per ton atau naik 93,6%. Selain gandum, harga kedelai di pasar dunia sudah menembus Rp8.875 per kilogram atau naik 95,6%.

Adapun Penyebab Kenaikan Harga Sembako saat Hari Raya Idul Fitri;

Harga Naik Karena Permintaan Meningkat

Pada bulan suci Ramadan, kebutuhan akan sembako semakin laris manis, seperti ayam, daging dan beras. Ketiga barang tersebut sangat laris diburu apalagi saat menjelang hari Raya Idul Fitri, hal ini juga didukung oleh masyarakat di Indonesia yang mayoritas muslim akan memasak masakan opor ayam atau daging. 

Dua masakan tersebut merupakan makanan yang wajib ada pada saat Hari Raya Idul Fitri, Lalu menyantap dua masakan tersebut dengan lontong yang terbuat dari beras.  Jadi ketiga bahan pokok itu pasti yang paling banyak diburu oleh masyarakat di hari lebaran. Dan para pedagang pun tak mau ketinggalan momentum dengan menaikkan harga sembako demi meraup keuntungan yang berlimpah.

Adanya Kartel Bahan Pokok

Kartel adalah gabungan beberapa produsen independen yang berusaha untuk menguasai pasar dengan cara memainkan harga dan menekan distribusi. Di Indonesia menjelang lebaran adanya kartel pangan. Cara kerja yaitu dengan meraup hasil panen para petani dalam jumlah besar. Kemudian, hasil tersebut ditimbun dan disimpan sampai persediaan di pasar menipis. Setelah itu, dijual dengan harga yang sangat tinggi. Kerja sama jahat dan tercela ini gak cuma terjadi pada bulan Ramadan saja, tapi juga bisa di bulan - bulan lainnya.

Rantai Distribusi yang Panjang

Proses pemindahan barang dari satu tempat ke tempat lain adalah distribusi. Seperti diketahui bahwa permintaan bahan makanan pokok meningkat selama bulan Ramadhan dan biasanya pasokannya sedikit, daerah-daerah bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan beberapa daerah untuk saling memenuhi. Meskipun tidak jarang, distribusi ini juga mempengaruhi berbagai bagian pulau. Misalnya untuk mendapatkan Bawang Merah dan Bawang Putih, Kota Sumatera harus menunggu kiriman dari Brebes. Saat ini, rantai pasokan yang panjang inilah yang mendorong harga kebutuhan pokok. Distribusi seperti contoh di atas tidaklah murah. Perjalanan dari Brebes ke Sumatera sangat panjang dan memakan banyak waktu dan uang dengan truk. Dealer biasanya menaikkan harga untuk menutupi biaya distribusi.

Faktor Iklim

Kondisi iklim yang tidak menentu seperti saat ini terkadang membuat para petani kewalahan. Karena perubahan cuaca, waktu panen tidak diketahui. Mungkin hujan untuk waktu yang lama, musim kemarau mungkin lebih lama selama musim hujan, atau mungkin ada musim kemarau yang tiba-tiba. Kondisi seperti itu jelas membingungkan produk pertanian. Akibatnya, terjadi kelangkaan bahan makanan pokok. Tentu saja, kelangkaan dapat secara dramatis meningkatkan harga pangan. Padahal, Ramadhan adalah momen di mana permintaan bahan makanan pokok meningkat.*



BACA JUGA
MEDSOS WOWBABEL