Hindari Tindakan Diskriminatif, Perempuan Harus Dilindungi

Jurnalis_Warga    •    Senin, 21 Maret 2022 | 19:49 WIB
Opini
Ilustrasi.(net)
Ilustrasi.(net)

Oleh: Zakia Mardhatillah (Mahasiswi Jurusan Fakultas Hukum Univeristas Bangka Belitung)


Dalam masyarakat umum, perempuan seringkali dipandang berdasarkan perspektif patriarki dengan lawan jenisnya, yaitu laki-laki. Dalam pengertiannya, patriarki ini merupakan sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama dan mendominasi dalam peran kepemimpinan politik, otoritas moral, hak sosial, dan penguasaan properti.

Struktur biologis dan perilaku yang berbeda menyebabkan perempuan dan laki-laki menerima perlakuan yang berbeda dalam masyarakat. Perempuan dipandang tidak setara atau lebih rendah dari laki-laki. Perempuan dianggap tidak rasional karena mereka lebih banyak menggunakan emosinya dalam menilai berbagai masalah. 

Anggapan ini telah melahirkan berbagai diskriminasi atau ketidakadilan yang dialami oleh perempuan, antara lain; marginalisasi, subordinasi, kekerasan, maupun beban ganda terhadap perempuan.

Diskriminasi adalah sikap yang termasuk dengan sengaja melakukan diskriminasi terhadap kelompok yang berkaitan dengan kepentingan tertentu. Pembedaan ini seringkali didasarkan pada agama, etnis, suku, dan ras. Diskriminasi cenderung dilakukan oleh kelompok mayoritas terhadap kelompok minoritas. 

Ketika seseorang diperlakukan secara tidak adil karena suku, antargolongan, kelamin, ras, agama dan kepercayaan, aliran politik, kondisi fisik, atau karateristik lain yang diduga menjadi dasar perilaku diskriminatif. Ada banyak sekali bentuk diskriminasi terhadap perempuan. Diskriminasi bisa terjadi dalam bentuk diskriminasi langsung dan diskriminasi tidak langsung. 

Diskriminasi langsung terjadi apabila seseorang diperlakukan secara berbeda akibat perilaku atau sikap dari suatu aturan. Sedangkan diskriminasi tidak langsung biasanya terjadi melalui kebijakan atau peraturan yang berakibat hanya pada jenis kelamin tertentu. Ada juga yang dikenal dengan istilah diskriminasi sistematik yang mana diskriminasi ini dapat diartikan sebagai hasil ketidakadilan yang berakar dari sejarah, adat, norma atau struktur yang dibuat oleh masyarakat setempat yang kemudian diwarisi oleh generasi berikutnya.

Apabila dipandang dari perspektif hak asasi manusia, diskriminasi tersebut melanggar HAM, dan diskriminasi terhadap perempuan melanggar hak asasi perempuan. Karena itulah, pemberdayaan perempuan dibutuhkan agar para perempuan dapat memperjuangkan hak-haknya.

Penyebab terjadinya diskriminasi biasanya karena dua hal, yaitu prasangka dan stereotip yang ada di masyarakat. Prasangka adalah perasaan negatif terhadap seseorang atau kelompok yang semata-mata didasarkan pada keanggotaan dalam kelompok tertentu.

Prasangka dari suatu kelompok terhadap kelompok lain merupakan akibat dari agresi. Suatu kelompok akan melakukan agresi apabila usahanya untuk memperoleh sebuah kekuasaan terhalang. Jika agresi tersebut dihalangi oleh kelompok lain, maka agresi akan dialihkan dengan mengkambinghitamkan kelompok lain tersebut. Tindakan ini akan berkembang menjadi prasangka yang dianut oleh anggota kelompok yang melancarkan agresi. 

Sementara itu, stereotip dapat diartikan sebagai citra kaku tentang kelompok ras atau budaya lain tanpa memerhatikan kebenaran dari citra tersebut. Contohnya seperti pandangan terhadap lapisan bawah masyarakat yang dinilai bersifat malas, bodoh, tidak berambisi, dan sebagainya.



BACA JUGA
MEDSOS WOWBABEL