Harga Pupuk Non Subsidi Naik Berlipat-lipat, Petani Menjerit

Jurnalis_Warga    •    Rabu, 12 Januari 2022 | 22:43 WIB
Nasional
ilustrasi.(net)
ilustrasi.(net)

JAKARTA,www.wowbabel.com -- Petani di seluruh Indonesia kembali mengeluhkan harga pupuk non subsidi. Harga berbagai jenis pupuk naik berkali-kali lipat. 

Pupuk Urea misalnya dari harga Rp.280.000/50 kg di tahun 2021, sekarang Rp.500.000/50 kg. Bahkan di luar Jawa sampai Rp.600.000/50 kg. Pupuk NPK juga sama, naik sangat signifikan. NPK Mutiara dari Rp.400.000/50 kg kini Rp.600.000. 

Untuk Phonska dari Rp.170.000/25 kg menjadi Rp.260.000. Jadi trennya naik dan ini sejak Oktober 2021 dan berlangsung sampai awal Januari ini.

Ketua Umum DPP Pemuda Tani HKTI, Rina Sa’adah dalam keterangan pers, Selasa (11/1/2022) di Jakarta, mengatakan kenaikan harga pupuk non subsidi tidak terlepas dari kenaikan harga berbagai bahan baku di pasar internasional seperti phosphate rock, KCL, amonia, gas bumi dan lain-lain akibat pandemi, dan diperparah lagi dengan kebijakan beberapa negara yang menghentikan ekspornya terutama gas. 

“Kementerian Perdagangan telah membuat proyeksi bahwa harga pupuk non subsidi akan naik sepanjang tahun 2022 karena harga bahan baku memang sedang naik,” kata Rina.

Merujuk data World Bank-Commodity Market Review per 4 Januari 2022, Pupuk Urea dan diamonium fosfat misalnya naik cukup signifikan. Urea mengalami peningkatan harga mencapai 235,85 persen sepanjang 2021. Dari US$265 per ton naik menjadi US$890 per ton pada Desember 2021. 

Sedangkan diamonium fosfat naik 76,95 persen dari US$421 per ton, menjadi US$745 per ton. 

“Jelas kenaikan harga pupuk non subsidi ini akan memengaruhi inflasi pada komoditas pangan dan itu sudah terjadi diawal tahun 2022 ini. Ujungnya adalah pendapatan petani berada di bawah standar impas dan ini akan terjadi sampai beberapa bulan kedepan jika tidak ada jalan keluar yang tepat,” tukas Rina.

Rina berharap pemerintah melakukan langkah-langkah startegis setidaknya kenaikan harga pupuk non subsidi ini tidak membuat petani makin merana. Misalnya bagaimana Kementan bersama Kemendag dan Kemenperin  berkoordinasi dengan ke 5 BUMN yang selama ini menjadi produsen pupuk yakni PT. Pupuk Sriwjaya (Pustri), PT Pupuk Kaltim (PKT), dan PT Pupuk Iskandar Muda (PIM), PT Petro Kimia Gresik (PKG), dan PT Pupuk Kujang (PK) menjaga harga pupuk non-subsidi tetap terjangkau oleh petani namun tidak membuat rugi juga produsen. 

“Kelima BUMN bisa memberikan harga di bawah harga internasional untuk menjaga akses pupuk bagi petani. Sebab peningkatan produktivitas pangan sangat banyak dipengaruhi oleh pemupukan. Proses pemupukan yang tepat sasaran berkontribusi tinggi dalam pencapaian produksi,” tukas Rina.(rill/*)




BACA JUGA
MEDSOS WOWBABEL