Nelayan dan Mahasiswa Masih Bertahan Gelar Aksi di PT Timah

Firman    •    Senin, 22 November 2021 | 17:07 WIB
Lokal
Caption: orum Nelayan Pencinta Kelabat Dalam bersama Mahasiswa terus menyuarakan aksinya, di halaman Kantor PT Timah, Senin (22/11/2021). (fn/wb)
Caption: orum Nelayan Pencinta Kelabat Dalam bersama Mahasiswa terus menyuarakan aksinya, di halaman Kantor PT Timah, Senin (22/11/2021). (fn/wb)

PANGKALPINANG, www.wowbabel.com -- Forum Nelayan Pencinta Kelabat Dalam bersama Mahasiswa terus menyuarakan aksinya, di halaman Kantor PT Timah, Senin (22/11/2021).

Aksi ratusan massa yang tergabung dalam Forum Pencita Kelabat Dalam tersebut, meminta pihak PT Timah Tbk, menyetop segala aktivitas Kapal Isap Produksi (KIP) milik PT Timah, dari perairan laut Kelabat Dalam.

Massa aksi dari 12 Desa di 2 Kabupaten Bangka Barat dan Bangka Induk bersama Mahasiswa di Bangka Belitung, sempat memanas saat aksi mereka yang sempat tak didengarkan oleh para petinggi perusahaan pelat merah tersebut.

Namun, suasana kembali kondusif setelah tiga orang perwakilan dari nelayan dan mahasiswa diperbolehkan untuk masuk bertemu dengan perwakilan dari PT Timah, akan tetapi para perwakilan nelayan dan mahasiswa tersebut, malah mendapatkan hasil yang kurang memuaskan dengan tidak bertemunya dengan Direktur PT Timah.

Ketua Forum Nelayan Pencinta Teluk Kelabat Dalam, Maryono mengungkapkan, aksi yang mereka lakukan hari ini sebagai bentuk protes dan meminta pihak PT Timah Tbk menyetop aktivitas KIP di perairan laut Kelabat Dalam.

"Hari ini kita melakukan aksi damai, dan dalam aksi ini kita ada 12 Desa yang tergabung dalam Forum Nelayan Pecinta Teluk Dalam, dan tuntutan kita ini ada 2, yang pertama menuntut pihak PT Timah agar segara mencabut SPK KIP yang ada di Teluk Kelabat Dalam," kata Maryono kepada sejumlah wartawan.

Maryono menyebutkan, selain mencabut SPK KIP milik PT Timah, mereka juga aktifitas KIP dihentikan yang saat ini sedang beroperasi di Teluk Kelabat Dalam.

"Kami tetap menolak perpanjangan Izin Usaha Pertambangan (IUP) milik PT Timah, sampai Mei 2022, karena masa izin Analisis Dampak Lingkungan (Amdal-red) sampai Mei 2022," ujarnya.

"Informasi KIP yang beroperasi saat ini ada 15 KIP, dan mereka bekerja siang dan malam tanpa berhenti," ungkap Maryono.

Selain itu kata Maryano, KIP yang ada kini juga bekerja di daerah tangkapan nelayan dan dampak dari KIP ini sangat dirasakan pihaknya. 

"Dampaknya sangat terasa, pertama dengan menurunnya tangkapan kami , yang biasa dapat tangkapan semalam Rp500 ribu, sekarang cuma Rp100 ribu," ungkapnya.

Lebih lanjut disampaikan Maryono, dengan belum bertemumya para perwakilan nelayan dan mahasiswa dengan pengambil kebijakan PT Timah, mereka akan terus menggelar aksi hingga malam hari, bahkan mereka juga menunggu Gubernur Bangka Belitung, Erzaldi Rosman dan Kapolda Bangka Belitung untuk menemui mereka.

"Selanjutnya kami akan menunggu gubernur atau Kapolda datang menemui kami, kalau tidak ketemu kami sepakat akan menginap disini, dan bahkan kedepannya kami akan mendatangi Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk meminta menghentikan operasional KIP," kata Maryano. (fn/wb)



MEDSOS WOWBABEL
OPINI KITE