Meng-Akrab-kan Pelajar Pancasila

Jurnalis_Warga    •    Kamis, 21 Oktober 2021 | 14:33 WIB
Opini
Yudi Sapriyanto SPd (Kepala SMA Negeri 1 Simpang Rimba).(ist)
Yudi Sapriyanto SPd (Kepala SMA Negeri 1 Simpang Rimba).(ist)


Kondisi hari ini menuntut keberadaan pelajar agar tidak berpuas diri dan terus belajar seumur hidup. Pelajar pancasila sebagai perwujudan pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai luhur pancasila. Dengan profil pelajar pancasila ini diharapkan dapat mengatasi dan membuat pelajar tetap eksis sebagai pemenang masa depan.

Oleh : Yudi Sapriyanto SPd (Kepala SMA Negeri 1 Simpang Rimba)


Tak terasa, pandemi covid-19 terus kita alami. Baik secara langsung maupun tidak, kondisi pandemi saat ini sangat berpengaruh pada pendidikan hari ini. Baru-baru ini kita menyaksikan tentang peristiwa simpang siurnya seorang selegram yang dikabarkan sepulangnya dari Amerika Serikat yang dikabarkan kabur dari karantina Covid-19, bahkan ada yang menyebutkan tidak mengalami proses karantina atau langsung pulang kerumah. 

Peristiwa yang menghebohkan ini setidaknya mengundang komentar beberapa petinggi negara selevel menteri. Setidaknya peristiwa itu memberikan sebuah catatan, egoisnya selegram tersebut tanpa memperhatikan lingkungannya yang berakibat pada tersebarnya Covid-19 pada orang lain. Dalam hal ini, makna kemandirian yang salah kaprah. Seharusnya selegram ini mampu berpikir panjang apa yang dilakukan dan dampaknya bagi orang lain. 

Belajar pada peristiwa ini, semakin membelajarkan kita bahwa pendidikan itu tidak pernah selesai. Peranan pendidikan haruslah tetap menjadi elemen penting dalam mengawal perubahan yang ada. Salah satunya adalah visi pelajar pancasila. Profil pelajar pancasila tertuang pada Permendikbud Nomor 22 Tahun 2020 Tentang Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2020 – 2024. Melalui regulasi ini, Menteri pendidikan dan kebudayaan menyampaikan tentang pentingnya “membumikan” karakter pelajar pancasila. Disamping itu, perkembangan zaman telah membawa dinamika perubahan yang sedemikian cepatnya. Perkembangan dalam bidang Iptek, imtaq, sains, informasi, sistem keuangan, budaya dan kondisi sosial yang terjadi saat ini membutuhkan penyikapan yang aktif dan sistemik.  

Dalam mencapai visi pelajar pancasila tersebut, intervensi yang holistik sangat perlu dilakukan. Berawal dari paradigma berfikir, pelajar sebaiknya memposisikan dirinya sebagai pelajar yang menghadirkan solusi (problem solving), bukan sebaliknya menghadirkan masalah (problem). Sehingga pembelajaran saat ini, bukan saja menyelesaikan soal-soal tetapi diharapkan dapat menyelesaikan persoalan hidupnya. 

Menjadikan dirinya sebagai penyelesai masalah dari mulai masalah dirinya sendiri hingga membantu menyelesaikan masalah orang lain atau dengan kata lain menjadi orang yang bermanfaat bagi lingkungannya. Tidak hanya menghadirkan kebaikan bagi dirinya sendiri namun menghadirkan kebaikan sosial. Peranan pelajar dapat diawali dengan mempersiapkan diri dengan bekal kompetensi yang cukup dan melimpah. Ibarat kata, air yang keluar dari teko tergantung pada apa yang dimiliki teko tersebut beserta jenis air yang ada didalamnya. 

Permasalahan hari ini lebih komplek dibandingkan sebelumnya, dan permasalah yang akan datang lebih kompleks dari hari ini. Berdasarkan adagium ini, bahwa tantangan dan peluang masa depan hanya akan dapat diselesaikan oleh pelajar hari ini yang mempersiapkan dan memiliki kompetensi masa depan. 

Kondisi hari ini menuntut keberadaan pelajar agar tidak berpuas diri dan terus belajar seumur hidup. Pelajar pancasila sebagai perwujudan pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai luhur pancasila. Dengan profil pelajar pancasila ini diharapkan dapat mengatasi dan membuat pelajar tetap eksis sebagai pemenang masa depan.

Karakter pelajar sebagai bagian dari profil pelajar pancasila merupakan pelajar yang bercirikan pada: 

a) Beriman, bertakwa dan berakhlak mulia. Spirit dan moralitas pelajar Indonesia yang berakhlak mulia adalah pelajar yang memiliki akhlak kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam penjabarannya pelajar mengetahui, memahami dan menerapkan agama didalam kehidupan sehari-hari. Konteksnya pelajar memiliki akhlak beragamanya, Tuhannya, manusia lainnya, alam dan akhlak bernegara. 


b) Berkebhinekaan global. Pelajar Indonesia mempertahankan budaya luhur, kearifan lokal dan identitasnya namun tetap terbuka pemikirannya terhadap budaya lainnya. Konteksnya pelajar Indonesia mengenal budaya sendiri dan menghargai budaya lainnya. 

c) Mandiri. Pelajar indonesia bertanggung jawab terhadap proses dan hasil belajarnya. 

d) Gotong royong. Pelajar indonesia memiliki kemampuan belajar didalam tim, melakukan secara sama-sama dengan sukarela agar kegiatan menjadi mudah, ringan dan lancar. Konteksnya pelajar indonesia melakukan kolaborasi, kepedulian dan berbagi. 

e) Kreatif. Pelajar yang kreatif adalah pelajar pancasila yang mampu memodifikasi dan menghasilkan sesuatu yang orisinil, bermakna, berdampak dan bermanfaat. Konteksnya disini pelajar mampu memiliki gagasan, karya dan tindakan yang orisinil. 

f) Bernalar kritis. Pelajar yang bernalar kritis adalah pelajar pancasila yang mampu mencari informasi, menginternalisasi, menganalisis, mengevaluasi dan menyimpulkan sehingga berdampak kepada keputusan dan tindakan yang akan diambil.



MEDSOS WOWBABEL
OPINI KITE