100 Ribu Hektar Hutan Rusak Akibat Pertambangan

Dwi H Putra    •    Rabu, 20 Oktober 2021 | 13:11 WIB
Lokal
Ilustrasi. (dok/wb)
Ilustrasi. (dok/wb)

PANGKALPINANG, www.wowbabel.com -- Kerusakan hutan akibat aktifitas penambangan bijih timah, setidaknya dari 659 ribu hektare lahan hutan ada 100 ribu lebih hektare rusak se - Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel). 

Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Babel mengharapkan dapat dikembalikan seperti semula oleh masyarakat penambang. 

"Kalau di kaki Bukit Kejora, Kecamatan Pangkalan Baru, Kabupaten Bangka Tengah (Bateng) itu dari laporan yang kami terima itu bukan hutan lindung, tapi milik pribadinya. Tapi tim sudah mendatangi pemilik untuk direklamasi, sebab dengan jalan umum," kata Kepala DLHK Babel, Marwan usai mengikuti pertemuan di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) baru-baru ini. 

"Pemilik ini belum kami panggil, sebab sebelumnya sudah didatangi DLH, Satpol PP Bateng bersama Polsek Pangkalan Baru," ujarnya. 

Lanjut Marwan, jika memang nanti ditemukan adanya kerusakan hutan lindung di kawasan itu, maka akan dipanggil secara resmi dan bisa dikenakan Undang-Undang Lingkungan Hidup. 

"Informasi yang kami terima sudah berhenti, namun jika membandel maka bisa ditindak tegas sesuai undang-undang," jelas Marwan. 

Diakui Marwan, kerusakan ini tidak hanya terjadi di kaki Bukit Kejora, sama halnya di kaki Gunung Menumbing, Kabupaten Bangka Barat (Babar) akibat aktifitas tambang rakyat. 

Tapi, tindakan persuasif yang dilakukan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kantor Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) bekerjasama dengan pihak kepolisian, aktifitas tambang bisa dihentikan, kendati kemungkinan masih ada yang membandel dengan sistem kucing-kucingan. 

"Tim kami disana juga sudah melakukan penertiban dan mengecek langsung kondisi disana, hancur dan rusak," tandas Marwan. 

"Rasa cinta terhadap lingkungan oleh masyarakat saat ini sangat kurang sekali, hanya bisa menambang tapi tidak direklamasi lagi, kami sudah berusaha menanam kembali kawasan yang rusak, tapi lagi-lagi dirusak dengan penambangan," sesalnya. 

Marwan menambahkan saat ini aktifitas tambang tungau dilakukan masyarakat sangat besar di sejumlah daerah, apalagi dengan harga bijih timah yang melonjak tinggi. Phaknya berharap masyarakat tidak hanya menambang tapi bisa mengembalikan kondisi hutan setelah ditambang. (dwi/wb)



MEDSOS WOWBABEL
OPINI KITE