Harga Timah Sedang Tinggi, Gubernur Desak Naikkan Royalti

Tim_Wow    •    Senin, 11 Oktober 2021 | 14:00 WIB
Ekonomi
Ilustrasi. (net)
Ilustrasi. (net)

PANGKALPINANG, www.wowbabel.com – Provinsi Bangka Belitung sebagai daerah penghasil timah utama di Indonesia sudah selayaknya mendapatkan bagian pendapatan dari kenaikan harga timah dunia. Apalagi kenaikan harga timah dunia telah mencapai titik tertinggi sepanjang masa dan diperkirakan harga akan tetap kuat.

Gubenur Provinsi Bangka Belitung Erzaldi Rosman menanggapi kenaikan harga timah dunia agar masyarakat juga dapat  menikmatinya dengan meminta kenaikan royalti dari PT Timah Tbk dari 3% menjadi 10%. 

Pemerintah beserta masyarakat, kata Erzaldi  harus menanggung beban dan biaya yang besar akibat dampak dari kerusakan oleh aktifitas penambangan ini. 

"Babel berharap kenaikan royalti timah 10 persen untuk masa depan ekonomi dan pembangunan berkelanjutan di Bangka Belitung," kata  Erzaldi diminta tanggapannya, Senin (11/10/2021).

Babel, kata Erzaldi  dikaruniai sumber daya alam mineral timah. Tetapi berbanding terbalik dengan kondisi Babel yang berkapasitas fiskal rendah. Sehingga baik provinsi, kota, dan kabupaten kesulitan membuat kebijakan, karena permasalahan dana yang minim. 

 "Kami rela alam kami dieksploitasi bagi bangsa dan negara, meski miris rasanya ketika daerah kami dengan sumber daya alam berlimpah ini tidak sebanding dengan apa yang kami dapati," ungkapnya.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 81 Tahun 2019, tarif royalti logam timah ditetapkan hanya sebesar 3%. Sedaingkan  royalti hasil pertambangan lain, seperti royalti batu bara 7%, bijih besi 10%, bijih nikel 10%, emas 5%, perak 3,25%, dan bauksit 7%. 

Oleh karena itu, seiring dengan target Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Sumber Daya Alam (SDA) Minerba yang cenderung meningkat setiap tahunnya, maka Erzaldi mengusulkan agar royalti dinaikkan menjadi 10%.

"Hal ini penting, karena kapasitas fiskal Babel masih rendah, naif rasanya apabila daerah kami sebagai salah satu daerah penghasil SDA yang tinggi, tidak mendapatkan hak yang layak. Sehingga wajar kami meminta hak kami untuk membangun daerah, peluang yang paling cepat yakni royalti yang minta dinaikkan, karena selama ini hanya 3%," ungkapnya. 

Erzaldi menambahkan, penerimaan Babel dari PNBP SDA (sumber daya alam) ada dari iuran tetap, landrent, dan royalti. Sedangkan khusus untuk royalti, masanya sudah lama dan tidak pernah berubah persentasenya.

Dia juga meminta Pemerintah Pusat mengeluarkan aturan larangan ekspor untuk bahan baku logam timah dalam rangka mendorong industrialisasi dan peningkatan nilai tambah mineral bagi Babel, serta memperketat pengawasan ekspor logam tanah jarang. 

Perjuangan Pemprov Babel agar menaikkan royalti dari timah sudah dilakukan Erzaldi dengan menemui Ketua Komisi VII DPR RI. Erzaldi pada April 2021 lalu.  Komisi VII DPR RI saat itu berjanji  menindaklanjuti aspirasi Babel tentang royalti ini dalam Rapat Kerja atau Rapat Dengar Pendapat dengan mitra terkait, dalam hal ini Kementerian ESDM, Kementerian Keuangan, dan Kementerian BUMN.

Sebelumnya Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Bangka Belitung, Amir Syahbana, mengatakan, kenaikan harga timah saat ini memiliki dampak di sektor perekonomian di Babel. Dia juga mengharapkan naiknya harga timah  berdampak pada naiknya royalti yang diterima Provinsi Bangka Belitung.

Ami rmengatakan, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 81 tahun 2019 tarif PNBP sektor ESDM komoditas emas tarifnya dapat progresif. Di mana royalti untuk emas mengikuti harga emas yang dapat naik apabila harga emas meningkat.

"Nah, untuk komoditas emas itu tarif royalti progresif tergantung harga, jadi 3,75 persen sampai 5 persen.  Mengacu dari pada itu, kita mengusulkan supaya tarif timah bisa mengikuti komoditas emas dan harga timah," kata Amir. 

Pemerintah Provinsi Bangka Belitung , kata Amir  berusaha meminta ke pemerintah pusat agar adanya peningkatan pendapatan dari royalti dana bagi hasil.

"Keinginan kita Ingin lebih dari itu terkait penerimaan daerah dalam hal ini di APBD, dari dulu tarif royalti hanya 3 persen, pemprov itu sudah berkali-kali berkeinginan ada peningkatan tarif dan juga telah ke BUMN PT Timah minta saham seperti perusahaan tambang di provinsi lainya," katanya.

Anggota DPR RI asal Bangka Belitung, Bambang Patijaya beberapa waktu lalu sempat mengusulkan adanya royalti timah berjenjang. 

Bambang mencontohkan dengan harga pokok produksi 18.000 dolar AS,  apabila harga di atas angka tersebut, maka PT Timah sudah mendapatkan keuntungan, sehingga bisa saja dinaikkan 10 persen royaltinya.

Kenaikan royalti timah timah hingga 10% tidak saja menguntugkan daerah. Negara juga mendapat pemasukan karena 20% royalti yang diterima diperuntukkan untuk pusat. (wb)



MEDSOS WOWBABEL