Tak Kantongi Izin, Oknum Kolektor Ini Mampu Beli Satu Ton Pasir Timah dari Penambang

Chairul Aprizal    •    Rabu, 06 Oktober 2021 | 11:25 WIB
Lokal
Ilustrasi pasir timah.(net)
Ilustrasi pasir timah.(net)

PARITTIGA,www.wowbabel.com --Seorang kolektor pasir timah, yakni Niko, warga Desa Bakit, diduga belum mengantongi izin karena mengaku tidak menggunakan perusahaan sebagai penampung timah dengan alasan dirinya hanya kolektor kecil-kecilan.

Niko mengaku menampung pasir timah dari penambang tidak lebih di atas satu ton untuk hasil penambangan mulai dari pertama munculnya aktivitas tambang di  Perairan Bakit

"Semenjak aktivitas tambang dimulai. Kita cuma beli kecil-kecilan, gak tentu sampai satu ton," kata Niko.

Diwawancarai di Taman Duku, Niko menyebutkan bahwa selama ini sudah menjadi penampung untuk hasil timah yang dibeli dari para penambang untuk dijual kembali ke pihak lain yang harganya lebih mahal.

"Gak, gak tentulah, bisa juga di atas satu ton. Selanjutnya dijual lagilah tempat yang lebih mahal. Saya gak bisa bilang jual kemana yang penting tentunya penampung yang aman," kata Niko, Selasa (05/10/2021), kepada awak media.

Niko menuturkan dirinya menjadi penampung timah bukan membawa nama perusahaan tapi nama personal karena beralasan masih terbilang sebagai kolektor kecil.

Sinergikan Antara Nelayan dan Penambang

Sementara itu Wakil Bupati Bangka Barat Bong Ming Ming berniat untuk mengakomodir pihak nelayan dan pihak penambang di Desa Bakit, tepatnya Perairan Teluk Kelabat Dalam agar keduanya bisa sama-sama beraktivitas.

Bong Ming Ming mengatakan ia berencana bertemu pihak nelayan juga untuk mendengarkan aspirasi masyarakat nelayan Teluk Kelabat Dalam terkait aktivitas penambangan.

"Jadi bagaimana kita bisa mensinergikan antara keinginan masyarakat penambang dengan masyarakat nelayan," ungkap Bong Ming Ming, diwawancarai di Taman Duku, Kecamatan Parittiga, Selasa (05/10/2021).

Bong Ming Ming menjelaskan apabila bisa mensinergikan kedua belah pihak maka hal ini lah yang disebut arah kebijakan yang mana bijak diantara kedua kepentingan.

"Kalau satu tempat tidak, tapi ada beberapa wilayah yang memang tidak bisa diganggu, iya dibagi wilayahnya itu yang coba kita akomodir antara penambang dan nelayan," tuturnya.(rul/wb) 



MEDSOS WOWBABEL