Harga Timah Mahal, Warga Bangka Belitung Ramai Buka TI Sebu

Dwi H Putra    •    Senin, 20 September 2021 | 16:22 WIB
Lokal
Caption: Peralatan yang digunakan untuk membuka TI sebu. (dwi/wb)
Caption: Peralatan yang digunakan untuk membuka TI sebu. (dwi/wb)

PANGKALPINANG, www.wowbabel.com -- Bermodalkan biaya yang tidak besar untuk memperoleh sejumlah peralatan menambang seperti mesin robin, pipa, selang dan lainnya, membuat masyarakat di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) ramai putar haluan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. 

Tambang Inkonvensional (TI) Sebu, ya begitu lah masyarakat Babel menamakan kegiatan tambang yang mulai populer di awal tahun 2021 ini. 

Kegiatan penambangan dengan bermodalkan mesin robin untuk menyedot sekaligus menyemburkan air dan mendorong pasir, lumpur dan biji timah ke sakan (tempat penampungan, red) saat ini menjadi sarana masyarakat mendapatkan uang. 

Harga biji timah yang saat ini berkisar dari Rp 90 ribu hingga Rp 230 ribu, tak pelak membuat perekonomian di Babel yang awalnya sepi menjadi menggeliat kembali, hal ini terlihat dari ramainya pusat perbelanjaan, pasar yang dikunjungi masyarakat setiap harinya. 

Tidak hanya pusat perbelanjaan sembako dan pakaian, toko emas, dealer sepeda motor pun kembali ramai didatangi masyarakat. 

Seperti diungkapkan Sunardi (41) yang biasanya mengambil upah dari perkebunan serta buruh bangunan di desa nya, saat ini lebih memilih menambang dengan sistem TI Sebu. 

"Ya untuk saat ini lebih baik nambang, dengan hasil satu atau dua kilogram sehari sudah dapat lebih untuk keluarga," ujar Sunardi. 

"Biaya awalnya habis sekitar Rp 5 jutaan, itu sudah komplit semua, dengan biaya operasional sehari sekitar Rp 100 ribu, tapi dengan sisa bensin yang bisa digunkan esok hari, tinggal menambah sedikit lah," terangnya. 

Lanjutnya, saat ini masyarakat terkendala dengan lahan tambang, kebanyakan menambang di lokasi bekas tambang yang sudah bertahun-tahun ditinggalkan. 

"Dulukan banyak tambang besar baik Tambang Nonkonvensional (TN) milik pengusaha atau Tambang Inkonvensional (TI) skala besar, sekarang ditambang lagi b dengan sistem TI Sebu ini," paparnya. 

"Kalau sudah habis nyari lahan milik warga, dengan sistem fee ke pemilik lahan, harganya variasi ada Rp 20 ribu perkilo sampai Rp 40 ribu perkilo, ya intinya nambang lah," tukas Sunardi. 

Hal senada juga disampaikan Asep (38) yang awalnya bekerja di TI milik orang lain, sekarang bekerja sendiri dengan sistem TI Sebu ini. 

"Ya cukup lah bang buat sekolah anak sama kebutuhan sehari-hari," jelas Asep. 

"Tidak besar, kalau pas ketemu bijih timah nya lumayan, seminggu dapat lah sekitar Rp 500 ribu sampai Rp 700 ribu dipotong biaya operasional, ini juga karena harga timah mahal, kalau murah nggak nyampai segitu," ulasnya. 

Sementara itu, terkait TI Sebu ini Pemerintah Provinsi (Pemprov) Babel akan melakukan dan Kepolisian Daerah (Polda) Babel akan membahas regulasi untuk melegalkan TI sebu ini. 

"Pelegalan ini agar masyarakat dapat menikmati dari tingginya harga timah saat ini, dengan harapan masyarakat bisa menangkap peluang dari meningkatnya harga timah, termasuk TI sebu, akan kita rekonsiliasi bersama kapolda agar aman nyaman dan bekerja," kata  Gubernur Babel, Erzaldi Rosman usai mengikuti rapat paripurna di Gedung DPRD Babel, Jum'at (18/9/2021) lalu. 

Namun tidak semua lokasi nantinya bisa dirambah tambang, tetapi lokasi yang memang bekas tambang dan tidak dimanfaatkan lagi. 

Masalah lahan ini pihaknya akan berkoordinasi dengan PT Timah, intinya harus membina tapi kalau hutan lindung dilarang, lahan eks tambang yang tidak lagi dikerjakan. 

"Makanya akan dibahas bersama, intinya masih di dalam RZWP3K," jelas Erzaldi. 

Regulasi ini lanjut Erzaldi menjawab usulan DPRD untuk mengatur tata kelola pertambangan di Babel. 

"Untuk memanfaatkan kesempurnaan harga timah tertinggi ini, kami akan mengatur  regulasi TI sebu, kalau tidak bisa mengambil kesempatan ini kasihan masyarakat nggak bisa optimalkan," paparnya. 

Berkenaan dengan timah ini, sejalan dengan upaya meningkatkan pendapatan asli daerah, pemerintah pusat akan mencoba mengakomodir usulan Pemprov Babel untuk kenaikan royalti yang diterima Babel. 

"Rencananya akan dinaikkan kemungkinan nanti besarannya berdasarkan harga timah sekian naik sekian persen, ditambah lagi kolektor nanti akan dikenakan pajak, harga beli timah akan dibatasi," tandasnya. 

"Kami akan segera berkonsultasi ke pusat, jangan hanya mereka saja berkonsultasi karena permasalahannya di daerah, kita yang ketahui, mestinya ada kewenangan bagi daerah untuk berkreasi," terangnya. 

Erzaldi mengajak, para wakil rakyat di DPRD untuk menyambut rencana kenaikan ini agar sama-sama mendorong pemerintah pusat untuk mengakomodir usulan tersebut. (dwi/wb)



MEDSOS WOWBABEL