Sumber Daya Timah Makin Susah, Industri Penambangan Kesulitan Bahan

Tim_Wow    •    Jumat, 17 September 2021 | 08:56 WIB
Ekonomi
Caption: Unit Penambangan Timah Primer PT Timah Tbk.
Caption: Unit Penambangan Timah Primer PT Timah Tbk.

LONDON, www.wowbabel.com -- Harga timah kontrak tiga bulan di London Metal Exchange (LME) berada di US$34.000 per metrik ton. Logam timah satu-satunya yang terus naik perlahan dalam tiga hari terakhir.

Timah juga mencatat logam kinerja terbaik dengan kenaikan 65% sepanjang tahun ini. Timah pernah menembus harga tertinggi di level US$35.950 per ton bulan lalu.

Harga timah diperkirakan terus meranjak mengingat persediaan berada di titik terendah sepanjang masa. Beberapa ahli mengatakan jika persediaan timah di gudang London maupun Shanghai semakin berkurang kendati pabrik peleburan sudah beroperasi normal.

Industri pertambangan timah duniapun mulai menghadapi masalah. Khususnya dua produsen timah besar dunia, Indonesia dan Cina sebab bahan baku penambangan timah bergeser dari penambangan permukaan (aluvial) ke penambangan timah primer yang membutuhkan teknologi dan biaya besar.

Sedangkan permintaan akan timah diperkirakan melebihi pasokan pada akhir dekade ini. Hal ini didorong oleh peningkatan penggunaan elektronik, kebangkitan Internet of Things dan revolusi energi hijau  yang  sangat didorong oleh teknologi elektronik.

“Dalam waktu dekat mungkin ada beberapa pergerakan harga yang signifikan karena Indonesia, produsen utama timah dunia, memasuki musim hujan sangat berpengaruh terhadap hasil produksi,” kata CEO of tin junior Elementos (ASX:ELT) Joe David dikutip dari stockhead.com, Rabu (15/9)/2021. 

Dia mengatakan bahwa pasokan logam  timah makin bertambah karena kondisi ekonomi beberapa negara mulai pulih dari COVID-19 akan meningkatnya pembelian barang elektronik.

“Kegunaan utama timah adalah dalam solder listrik, yang menyatukan motherboard dan papan sirkuit tercetak dan segala sesuatu yang berhubungan dengan alat komunikasi,” katanya.

 Asosiasi Timah Internasional (ITA) memperkirakan defisit produksi timah minimal  30.000-40.000 ton hingga tahun 2025.  

“Defisit 30.000-40.000 itu didasarkan pada penggunaan faktor pertumbuhan permintaan secara historis sebesar 1,8%. Tetapi kenyataannya mendekati pertumbuhan 3-4% dengan adanya pembangunan infrastruktur energi hijau dan bergerak menuju elektrifikasi,” ujar David.

David mengatakan, terjadi masalah yang dihadapi oleh industri tambang timah dunia perpindahan dari aluvial (endapan permukaan) ke penambangan timah primer . Pergeseran penambangan ini sebagai faktor utama yang mempengaruhi pasokan untuk industri penambangan timah seperti yang dialami oleh Indonesia dan Cina dimasa depan.

“Data dari ITA tampaknya menunjukkan produsen utama Indonesia dan Cina bergerak ke fase di mana pasokan mereka turun sampai batas tertentu,” katanya.

David mencontohkan perusahaan penambangan timah utama dari Indonesia, PT Timah Tbk dengan 95%  sumber daya sekarang berada di lepas pantai. PT Timah harus melakukan pengerukan lepas pantai sekaligus menghadapi tantangan lingkungan yang menyertainya.

“Cadangan aluvial di seluruh dunia telah ditambang, jadi banyak industri beralih ke penambangan timah primer. Dan sebagian besar deposit di seluruh dunia berada di bawah tanah,  jelas menyebabkan biaya pengembangan yang tinggi, dan biaya penambangan yang lebih tinggi. Jadi, ada sedikit perubahan struktural yang terjadi di industri ini,” tukasnya.

Bagi David rencana proyek penambangan timah di beberapa belahan dunia yang sudah melakukan kajian dengan kondisi saat ini memiliki nilai keekonomian yang fantastis  sebab harga timah sudah berada di atas US$33.000 per ton. (wb)



MEDSOS WOWBABEL