Kebutuhan Pangan Babel Dipasok 60 Persen Dari Luar Babel

Dwi H Putra    •    Jumat, 17 September 2021 | 11:29 WIB
Lokal
Ilustrasi (net)
Ilustrasi (net)

PANGKALPINANG, www.wowbabel.com -- Ketahanan pangan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) hingga saat ini masih belum optimal. Bahkan, 60 persen pasokan kebutuhan pangan dipasok dari luar Babel. 

Pada tahun 2022 mendatang pihaknya akan mendorong Pemerintah Provinsi (Pemprov) Babel untuk fokus pada ketahanan pangan, setelah pantauan dari sejumlah Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Babel masih sangat rendah. 

"Karena hingga hari ini ketergantungan di Babel ini masih 60 persen dari luar," kata Ketua DPRD Babel, Herman Suhadi di Pangkalpinang, Jumat (17/9/2021). 

Lanjutnya, apabila rencana pemerintah untuk mengembangkan food estate terlaksana maka ketergantungan pangan ini bisa diatasi, paling tidak hingga 2022 bisa dipenuhi 50 persen. Namun, harus meningkatkan sarana prasarana, alat pertanian, irigasi membantu pupuk, bibit unggul dan lainnya. 

Sementara itu, Anggota Komisi IV Fraksi PDIP, Toni Mukti, mengaku prihatin melihat kondisi ketahanan pangan di Babel yang terus menerus bergantung dengan provinsi lain.

"Kami cek ke kabupaten tanah subur, petani bekerja hebat, tapi kenapa pangan terpuruk," jelas Toni. 

"Jika semua bekerja bersama mewujudkan ketahanan pangan ini, maka mandiri pangan akan berhasil di Babel," paparnya. 

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Pertanian Babel, Juaidi, menyebutkan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) yang sudah ditetapkan Kementerian 22.402 hektare, yang akan dioptimalkan untuk tanaman ketahanan pangan. 

"Lahan ini belum digarap optimal, ada yang sudah ditanam dua kali, ada yang satu kali, bervariasi," tukas Juaidi. 

"Makanya kami mendorong potensi besar bisa dioptimalkan minimal untuk lima ton satu musim tanam, sehingga upaya memenuhi kebutuhan pangan bisa diraih," harapnya. 

Selain lahan tersebut, diakuinya Babel juga memiliki lahan cadangan pangan berkelanjutan 66 ribu hektare untuk jangka panjang. Dan jangka pendek, pihak yang mengoptimalkan 22.402 hektare tersebut.

"Kami juga mendorong food estate, Gubernur sudah bersurat ke Kementerian Ketahanan Pangan untuk food estate ini. Itu beragam tidak hanya padi, tapi bisa jagung, ubi kayu, udang, dan lainnya yang bisa untuk meningkatkan ketahanan pangan," terang Juaidi. 

"Kami akan berkolaborasi dengan Dinas Pekerjaan Umum (PU) untuk mengembangkan irigasi di daerah yang dikerjakan lahan oleh petani, dan irigasi sederhana baik itu bendungan di areal yang kecil,  talud dan pintu air dan lainnya," tambahnya. 

"Target rencana strategi tahun 2022, 50 persen kebutuhan dipasok lokal, dengan harapan bisa terwujud kalau food estate bisa terlaksana. Dan untuk gerakan petani harus ada program loncatan yang cepat, disamping itu juga mekanisasi penggunaan varietas unggul," pungkas Juaidi. (dwi/wb)



MEDSOS WOWBABEL
OPINI KITE