Angka Perceraian Meningkat Pesat di Bangka Barat, Persoalan Ekonomi Jadi Biang Keladi

Chairul Aprizal    •    Senin, 13 September 2021 | 15:14 WIB
Lokal
Ketua Pengadilan Agama Muntok, Muhamad Syarif.(rul/wb)
Ketua Pengadilan Agama Muntok, Muhamad Syarif.(rul/wb)

MUNTOK,www.wowbabel.com -- Perkara perceraian terus meningkat tajam di Kabupaten Bangka Barat tahun ini yang ditangani Pengadilan Agama Muntok Kelas II Kabupaten Bangka Barat, Senin (13/09/2021).

Ketua Pengadilan Agama Muntok, Muhamad Syarif menuturkan saat ini total perkara yang masuk ke Pengadilan Agama ada  sebanyak 396 perkara di Bangka Barat dan  plus 1 perkara baru masuk pertanggal 13 September 2021.

Terdiri dari izin poligami 1 perkara, cerai talak atau perceraian yang diajukan suami 82 perkara, cerai gugat atau perceraian yang diajukan istri 244 perkara, penguasaan anak 1 perkara, perwalian 3 perkara serta asal usul anak 7 perkara, 

Itsbat nikah atau orang yang pernikahannya belum tercatat (pengesahan nikah) 27 perkara, dispensasi kawin atau belum memenuhi syarat usia menikah (dibawah usia 19 tahun) 23 perkara, wali adhol atau wali yang enggan menikahkan 1 perkara, P3HP/Penetapan ahli waris 5 perkara, dan lain-lain 2 perkara.

Dari kesekian banyak perkara didominasi oleh Kecamatan Muntok dan untuk Kecamatan Tempilang yang rendah perkara dikarenakan kesadaran hukum dan akses pelayanan yang lemah.

"Perkara yang sudah diputuskan sampai saat ini itu ada 351, maksud saya jadi masih ada perkara yang berproses," tutur Muhamad Syarif.

Syarif menyebutkan perkara perceraian lebih didominasi oleh cerai gugat oleh istri karena dampak ekonomi secara umum yang dimana persoalan Ekonomi memang pihak suami adalah yang paling bertanggung jawab.

"Ketika suami mengabaikan tanggung jawabnya maka istri akan menggunakan hak hukumnya yaitu menggugat tidak serta menggugat perceraian saja mungkin juga terkait hak asuh anaknya ke depan," jelasnya.

Syarif melihat fenomena perceraian gugatan istri yang terjadi di Bangka Barat ini dialami oleh masyarakat sipil biasa yang mendominasi karena dari segi komposisi penduduk Bangka Barat lebih banyak sipil ketimbang ASN.

"Dialami ini banyak diusia produktif ya, 25 tahun keatas, meskipun ada juga yang 23 tahun dan 20 tahun" tuturnya.

Sementara untuk talak yang diajukan suami kebanyakan perkara disebabkan karena tuntutan istri yang terlalu banyak sehingga pihak suami terkadang tidak terpenuhi.

"Cerai talak variatif sih, bisa jadi juga karena tuntutan istrinya banyak karena ekonomi juga lah meskipun tidak bisa menampikkan di beberapa perkara ada masalah moral seperti orang ketiga ada tapi itu persentasenya kecil" ujarnya.

Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya memang diakui oleh Syarif sangat lumayan tinggi karena data pada tahun sebelumnya untuk angka perceraian total sekitar 300 perkara. 

"Dengan jumlah penduduk kabupaten sekecil Bangka Barat ini data ini terbilang besar. Ini sudah hampir 400 sampai hari ini, jika sekarang perkara masuk bulan 9 sudah 400 kan berarti sekitar lebih dari 32 lebih kan perbulan" tukasnya.

Syarif menyebutkan tren perceraian ini memang naik dan tidak hanya terjadi di wilayah Bangka Barat saja, melihat fenomena ini Pengadilan Agama mengimbau masyarakat jangan terlalu cepat mengambil langkah untuk bercerai.

"Diselesaikan dulu di pihak keluarga, bisa juga melibatkan tokoh masyarakat dan tokoh agama setempat juga ada PP 4 di KUA kecamatan masing-masing, bisa juga untuk mencari solusi supaya jangan berakhir ke perceraian" ungkapnya.

Syarif menuturkan perceraian bukan satu-satunya solusi karena pengadilan agama adalah hilir atau ujung sehingga hanya menangani perkara jadi penekanan angka perceraian bisa ditekan dengan diselesaikan di hulu sehingga dapat sesuai visi misi Bupati dalam menjadikan Bangka Barat sejahtera dan bermartabat.(rul/wb) 




MEDSOS WOWBABEL