PT Timah Tbk Utamakan Cari Timah, Bukan Logam Tanah Jarang

Tim_Wow    •    Rabu, 08 September 2021 | 16:58 WIB
Ekonomi
Ilustrasi (net)
Ilustrasi (net)

JAKARTA, www.wowbabel.com -- PT Timah Tbk menyatakan keseriusannya dalam mengembangkan rare earth element (REE) alias logam tanah jarang (LTJ) di Indonesia. Hanya saja focus PT Timah Tbk (TINS) pada upaya mencari logam timah, bukan menambang LTJ.

PT Timah Tbk  hingga kini masih berkutat dalam pencarian mitra dalam mengelola logam tanah jarang sebagai mineral ikutan darai proses penambangan timah. Untuk menjadi logam tanah jarang tidak lagi gampang, butuh teknologi dan sumberd aya manusia yang mumpuni. 

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT Timah Tbk Wibisono, dalam Public Expose Live 2021, Rabu (8/9) mengatakan, proses pengolahan logam tanah jarang tergolong rumit dan panjang. Dimulai dari tanah jarang itu sendiri, kemudian dipecah menjadi oxide, lalu dari oxide dipecah menjadi logam, sampai akhirnya menjadi magnet.

“Tanah jarang juga mengandung helium yang merupakan zat radioaktif. Jadi, karena proses panjang itu, tentu diperlukan pihak yang memiliki teknologi berpengalaman. Terkait dengan prosesnya, kita juga melihat yield-nya. Hasil mana yang kira-kira prosesnya paling menguntungkan kedua belah pihak,”  ujarnya.

Wibisono menegaskan, PT Timah Tbk serius mengembangkan pengolahan tanah jarang, komoditas tambang yang juga merupakan ikutan bahan baku timah. Meskipun harus menempuh proses panjang, perseroan akan tetap melakukan eksplorasi, terutama untuk menambah inventori.

“Karena sekali lagi, rare earth ini adalah kandungan mineral ikutan. Jadi, kami utamanya bukan mencari rare earth, tapi mencari timah yang hasil ikutannya kami kumpulkan sebagai inventori,” tutur dia.

Berdasarkan data  Kementerian ESDM 2020 tersebut, dari kegiatan operasi produksi timah sumber daya monasit yang mengandung unsur tanah jarang mencapai sekitar 185.179 ton logam yang dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi cadangan. 

Sementara cadangan terbukti monasit tercatat baru mencapai 3.311 ton logam.

Sumber daya monasit ini kebanyakan terdapat di Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, dan Kalimantan Barat. Sementara sumber daya xenotim tercatat sebesar 20.734 ton logam yang dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi cadangan. Sementara cadangan terbukti tercatat baru sebesar 0,06 ton logam. Adapun sumber xenotim ini banyak terdapat di Kepulauan Bangka Belitung. (wb)



MEDSOS WOWBABEL