Perusahaan Timah Dunia Raih Laba di Tengah Amukan Corona, Siapa Laba Terbesar?

Tim_Wow    •    Rabu, 01 September 2021 | 12:05 WIB
Ekonomi
Ilustrasi (net)
Ilustrasi (net)

PANGKALPINANG, www.wowbabel.com -- Perusahaan penambangan timah dunia  meraup keuntungan besar pada  semester pertama tahun 2021. Harga timah yang terus naik sejak bulan pertama tahun ini memacu perusahaan untuk meningkatkan produksi timah guna memenuhi tingginya permintaan pasar akibat pasokan yang masih ketat akicat penyebaran virus Corona (Covid-19).

Tiga perusahan peleburan timah terbesar dunia sekaligus pemasok timah ingot utama itu adalah Yunan Tin Coporation (YTC) dari China, lalu PT Timah Tbk (TINS) dari Indonesia, dan ketiga adalah Malaysia Smelting Corporation (MSC) asal Malaysia.

Dari keriga  perusahaan produsen timah terbesar dunia ini, perusahaan manakah yang paling tebal keuntungannya di semester pertama 2021 ini?

PT Timah Tbk

Perusahaan penambangan timah dari Indonesia milik negara tergabung dalam  holding tambang Mind ID.  Lebih dari 80% wilayah produksi PT Timah berada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Dalam laporan keuangan perusahaan 30 Agustus,  PT Timah Tbk membukukan laba bersih sebesar Rp311,3 miliar sepanjang semester I 2021. Pencapaian tersebut membaik dari periode yang sama tahun sebelumnya yang mencatatkan kerugian Rp 442,9 miliar.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT Timah, Wibisono mengatakan, positifnya kinerja perusahaan ditopang performa harga komoditas timah yang membaik di pasaran global.

"TINS terus berbenah memperbaiki kinerja pada semester pertama 2021. Ini terlihat dari membaiknya performa finansial yang terus tumbuh dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Di pasar komoditas dunia, logam timah menjadi salah satu komoditas dengan performa terbaik," kata Wibisono.

Ada pun rasio DER (debt to equity ratio) triwulan II 2021 sebesar 103 persen. Angka tersebut menyusut dibandingkan periode akhir 2020 sebesar 142 persen.

Hutang bank jangka pendek berhasil diturunkan dari Rp 3,8 triliun pada akhir tahun 2020, menjadi Rp 2,2 triliun di akhir triwulan II-2021.


Yunan Tin Company (YTC)

Perusahaan timah terbesar di dunia yang beroperasi di  Provinsi Yunan sebaga pusat induatri pertambangan di Cina.

Laporan dari Asosiasi Timah Internasional (ITA) mengatakan. YTC memproduksi sekitar 43.200 ton timah (ingot dan produk) selama semester pertama, naik 25,5%. Tembaga dan seng masing-masing naik 26,1% dan 11,1%.

“YTC kemungkinan besar akan membukukan rekor keuntungan tahunan tahun ini. Harga timah tetap positif selama dua bulan sejak akun paruh pertama diselesaikan. Prospek juga tetap relatif positif untuk produsen timah, dengan ketatnya pasar spot,” tulis asosiasi pertengahan Agustus ini.

Tidak saja memproduksi timah ingot, YTC juga bergerak diusaha industri hilir timah dan sejumlah komuditas tambang lainnya sehingga secara grup, YTC memiliki laba yang lebih besar tahun ini dengan kenaikan harga komuditas tambang.

Peningkatan ini secara menyeluruh bila digabungkan memberikan YTC laba bersih yang dapat diatribusikan sebesar 960 juta RMB (Yuan). Hal ini merupakan peningkatan 375% dibandingkan tahun lalu dan rekor baru bagi perusahaan.

“YTC kemungkinan besar akan membukukan rekor keuntungan tahunan tahun ini. Harga timah tetap positif selama dua bulan sejak a paruh pertama diselesaikan. Prospek juga tetap relatif positif untuk produsen timah, dengan ketatnya pasar spot,” tulis asosiasi.


 Malaysia Smelting Corporation Bhd (MSC)

MSC membukukan laba bersih RM25 juta (Rp84,939 miliar) untuk paruh pertama tahun 2021. Laba ditoreh MSC setelah menderita kerugian bersih RM12,3 juta (Rp 41,798 miliar) untuk periode yang sama tahun lalu.

MSC melaporkan perputaran pendapatan perusahaan didorong oleh peningkatan kualitas produksi timah serta harga jual rata-rata (ASP) timah yang lebih tinggi, yang 65% lebih tinggi pada RM111.450 per metrik ton (MT ) semester pertama tahun ini  dibandingkan dengan RM67.696 MT periode yang sama tahun lalu.

Segmen penambangan timah menghasilkan laba bersih RM 36,2 juta, lima kali lipat dari RM6,6 juta pada periode yang sama tahun 2020, Sementara peleburan timah melaporkan kerugian bersih yang lebih rendah sebesar RM 2,8 juta.

CEO MSC Datuk Dr.Patrick Yong kepada media Malaysia awal pekan Agustus mengatakan,  kelompoknya telah diuntungkan dari kenaikan kuat harga timah yang sekarang ada di  level harga tertinggi.

Patrick Yong memperkirakan harga timah akan tetap pada level tertinggi mengingat permintaan timah yang masih kuat didorong oleh penggunaan utamanya sebagai solder dalam semikonduktor, elektronik, peralatan rumah tangga, fotovoltaik surya,  bahkan dalam baterai lithium-ion. (wb)



MEDSOS WOWBABEL