Dua Oknum Polisi Penganiaya Jurnalis Nurhadi Tak Ditahan, Ini Sikap AJI Surabaya

Tim_Wow    •    Selasa, 31 Agustus 2021 | 08:43 WIB
Nasional
Pengurus AJI Surabaya saat mendatangi Kejari Tanjung Perak, Surabaya.(ist)
Pengurus AJI Surabaya saat mendatangi Kejari Tanjung Perak, Surabaya.(ist)

SURABAYA,www.wowbabel.com -- Kepala Kejaksaan Negeri Tanjung Perak Surabaya, I Ketut Kusna Dedi menyebut bahwa tidak ditahannya dua tersangka pelaku kekerasan terhadap jurnalis Nurhadi, karena ada permintaan dari Polda Jatim dan Polrestabes Surabaya. Permintaan itu disampaikan kepada Kejaksaan Tinggi Jawa Timur melalui surat yang dikirimkan pada 24 Agustus 2021 lalu.

Hal ini disebutkan Ketut ketika menemui perwakilan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Surabaya dan pengacara Nurhadi, Senin (30/8/2021) siang.

Dia pun mengatakan kewenangan untuk penahanan sebenarnya ada pada Kejaksaan Tinggi Jawa Timur.

"Kami hanya tanda tangan administrasi, pengendali kebijakan ada di Kejaksaan Tinggi Jawa Timur. Dalam kasus ini, yang kami lakukan sifatnya hanya administratif karena berkaitan dengan locus delicti di mana kejadian (penganiayaan) ada di wilayah hukum kami," kata Ketut seperti dikutip dari pernyataan tertulis yang dibuat AJI Surabaya, Senin (30/8/2021) siang. 

Dia menjelaskan, berdasarkan apa yang disampaikan Kejaksaan Tinggi Jawa Timur, dua tersangka, Firman Subkhi dan Purwanto tidak ditahan karena dianggap kooperatif.

Selain itu ada surat permintaan dari kepolisian yang meminta tersangka tidak ditahan dengan alasan tenaganya masih dibutuhkan institusi. Kemudian, juga ada permohonan dari keluarga tersangka yang menjamin bahwa keduanya akan bersikap kooperatif.

Menanggapi adanya surat dari kepolisian yang meminta agar tersangka tidak ditahan, ketua AJI Surabaya, Eben Haezer mempertanyakan komitmen kepolisian dalam kasus ini.

Dia menyebutkan, tindakan penganiayaan yang dilakukan 2 tersangka adalah tindakan yang merugikan nama baik institusi Polri.

"Namun polisi malah meminta agar terhadap tersangka tidak dilakukan penahanan. Bagi kami ini merupakan sesuatu yang tidak elok untuk institusi Polri," kata Eben Haezer melalui pernyataan tertulis.

Dia menambahkan, wewenang untuk menahan atau tidak menahan tersangka memang tergantung pada pertimbangan subyektif dari penyidik maupun jaksa. Namun dia berharap agar mereka yang berwenang memutuskan ditahan atau tidak, juga mempertimbangkan kondisi korban.

Menurutnya, tidak ditahannya tersangka membuat korban tidak bisa leluasa beraktivitas karena merasa terancam.



MEDSOS WOWBABEL