Ini Penjelasan Ahli Terkait Pengajuan Pembangunan PLTT

Dwi H Putra    •    Kamis, 12 Agustus 2021 | 21:50 WIB
Nasional
Kepala Perwakilan PT ThorCon Internasional, Bob S Efenddi.(dwi/wb)
Kepala Perwakilan PT ThorCon Internasional, Bob S Efenddi.(dwi/wb)

PANGKALPINANG, www.wowbabel.com -  Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Thorium (PLTT) yang dicanangkan PT ThorCon Indonesia, baru akan dimulai pada tahun 2024 mendatang, hal itu apabila pemerintah mengizinkan dan mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres). 

"Sekarang ini masih melakukan kajian sesuai permintaan pemerintah, terutama tanggapan masyarakat di Bangka Belitung serta kajian lainnya," kata Kepala Perwakilan PT ThorCon Internasional, Bob S Efenddi usai mengikuti Forum Group Discussion (FGD) di Pangkalpinang, Kamis (12/8/2021). 

"Tidak itu saja tahun ini kami akan membangun laboratorium bahan bakar di Jatinagor, Bandung, sehingga nantinya dapat memproduksi bahan bakar di Indonesia," ujarnya. 

Selain itu, tahun depan akan membangun fasilitas uji non visi di Jawa Timur, dengan membeli tanah di kawasan industri setempat, sehingga pada kwartal ketiga atau empat tahun 2022 spendingnya sudah mendekati satu triliun dengan harapan pemerintah sudah mengeluarkan perpres. 

"Kalau di Babel belum ada kegiatan pembangunan, kecuali sosialisasi baik secara langsung maupun media, sebab banyak informasi tentang PLTT ini ada miss komunikasi dan disinformasi," jelas Bob. 

"Yang mana memang ada yang mengaburkan informasi, padahal PLTT ini pembangkit listrik yang aman dan ramah lingkungan. Kajian-kajian ini untuk mengajukan proposal kepada pemerintah, salah satunya tanggapan masyarakat," terangnya. 

Ditambahkannya, jika memang nanti hasil kajian sudah lengkap, pada awal Agustus pada kwartal pertama tahun 2022 dan sudah bisa diajukan dan dibahas pemerintah, kendati diterima atau tidak oleh pemerintah. 

Apalagi berdasarkan keterangan paparan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan, bahwa pada 2060 di Indonesia harus nol karbon, di tahun 2060 itu 85 persen energi terbarukan, dimana 15 persen adalah nuklir. 

Sedangkan berdasarkan perencanaan Kementerian Energi dan Sumber Daya Manusia (ESDM) Indonesia ketika 2060 itu harus sudah memproduksi 600 ribu megawatt listrik, jika 15 persen maka 90 ribu megawatt jauh lebih besar daripada total energi listrik di Indonesia saat ini hanya 72 gigawatt, maka jika dibagi 30 tahun setiap tahun mulai tahun 2030 harus mendirikan dan memproduksi listrik sebesar 30 ribu megawatt PLTN. 

"Sebagai orang energi, secara realistis pembangunan memang dibangun 2030, setiap tahun bisa memproduksi 3 ribu megawatt, sebab tahun 2040 seluruh pembangkit listrik berbahan bakar batu bara harus disetop semuanya," tandas Bob lagi. 

"Dengan kondisi itu, PLTT harus dibangun sebelum 2040, maka dengan kondisi itu PLTT sangat menjamin pembangunan energi ini," tukasnya. 

"Apalagi, jika memang dibangun di Babel, sudah pasti investor akan masuk Babel, perekonomian dan pembangunan akan berjalan sebab listriknya terjamin ketersediaannya," pungkas Bob. (dwi/wb)



MEDSOS WOWBABEL