Dijuluki Sang Raja Ngilang, Ini Kata Erzaldi Rosman

Dwi H Putra    •    Senin, 26 Juli 2021 | 16:16 WIB
Lokal
Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Erzaldi Rosman.(ist)
Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Erzaldi Rosman.(ist)

PANGKALPINANG, www.wowbabel.com - Gubernur Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Erzaldi Rosman, menanggapi dengan santai atas julukan dirinya sebagai Sang Raja Ngilang.

Menurutnya julukan yang diberikan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) KM Universitas Bangka Belitung (UBB) tidak masalah. 

"Apakah saya menghilang keluar negeri atau luar daerah, saya kan di Babel ini juga," kata Erzaldi Rosman kepada awak media usai paripurna di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bangka Belitung, Senin (26/7/2021). 

"Tidak apa-apa, saya tidak marah kok, namanya juga kritikan, saya terima," ujarnya. 

Namun, menurut orang nomor satu di Bangka Belitung ini, alangkah baiknya kritikan yang disampaikan dengan etika, bukan dengan memposting di media sosial. 

"Tapi alangkah baiknya mahasiswa sebagai penerus bangsa, bisa menyampaikan kritikan itu dengan lebih beretika," harapnya. 

Diketahui, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) KM Universitas Bangka Belitung (UBB), memberikan julukan kepada Gubernur Kepulauan Babel, Erzaldi Rosman, sebagai "Sang Raja Ngilang" alias sosok yang sering menghindar disampaikan oleh oleh akun Instagram @bemkmubb, beserta beberapa slide poster yang diunggah, Minggu (18/7/2021) malam.

Presiden BEM KM UBB, Rio Saputra, menyatakan kritik digital dan julukan itu diberikan kepada Gubernur Babel, lantaran bentuk kekecewaan pihak BEM KM UBB setelah berulang kali permintaan audensi kepada yang bersangkutan tak kunjung digubris.

Kedatangan BEM KM UBB, kata Rio, untuk membahas berbagai persoalan yang terjadi di Bangka Belitung. Salah satu dan awalnya yaitu terkait permasalahan buruh di Bangka Belitung. Kala itu, memang bertepatan pada Hari Buruh Internasional.

Selain permasalahan buruh, kritik lainnya yang disampaikan yaitu terkait konflik antara nelayan dan penambang.

BEM KM UBB pun menilai sosok Gubernur Bangka Belitung terkesan sering menghindar alias menghilang serta menutup diri terhadap masukan-masukan dan ruang diskusi dari masyarakat atau dari kalangan mahasiswa.

"Julukan tersebut kami berikan sebagai bentuk dari kekecewaan kami kepada Gubernur Babel, dimana dimulai pada may day beberapa waktu yang lalu saat KM UBB mengirimkan surat audiensi sebanyak tiga kali tetapi tidak ada respon dari Gubernur," ujarnya. 

"Iya (bertepatan Hari Buruh Internasional-red), bahkan sebelum 1 Mei tepatnya tanggal 28 kami sudah mengirim surat," katanya saat dikonfirmasi Wow Babel.

Selain itu, BEM KM UBB juga menanyakan keberadaan Gubernur Babel ketika terjadinya konflik antara penambang dan nelayan di Pantai Matras, Kabupaten Bangka, baru-baru ini.

"Selain itu melihat beberapa hal yang terjadi di masyarakat nelayan. Contohnya beberapa waktu yang lalu ketika ada ultimatum dari masyarakat nelayan yang meminta Gubernur untuk menemui mereka langsung di kapal KIP yang sedang mereka duduki tetapi tidak diindahkan," katanya.

"Kami menilai gubernur sering 'ngilang' jadi sudah layak diberi julukan itu," tukasnya.

Teruntuk atas berbagai persoalan itu, BEM KM UBB berharap kepada Gubernur Babel agar tidak lagi menutup diri kepada mahasiswa dan masyarakatnya yang ingin bertemu menyampaikan aspirasi.

"Segala permasalahan yang ada di Babel ketika memang yang kewenangan untuk menyelesaikan itu ada di pemerintah pusat, gubernur harus tegas dan ada bersama masyarakat dan tentunya mahasiswa akan terus untuk memperjuangkannya agar masyarakat khususnya di Babel dapat berkurang penderitaannya," pungkas Rio.(dwi/wb) 



MEDSOS WOWBABEL