BEM KM UBB Juluki Gubernur Babel Sang Raja Ngilang

Hendri Dede PKP    •    Senin, 19 Juli 2021 | 07:47 WIB
Lokal
Caption: Unggahan bemkubb melalui laman media sosial instagram. (IST)
Caption: Unggahan bemkubb melalui laman media sosial instagram. (IST)

PANGKALPINANG, www.wowbabel.com -- Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) KM Universitas Bangka Belitung (UBB) memberikan julukan kepada Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Erzaldi Rosman Djohan sebagai "Sang Raja Ngilang" alias sosok yang sering menghindar.

Kritik digital itu disampaikan oleh oleh akun Instagram @bemkmubb, beserta beberapa slide poster yang diunggah, Minggu (18/7/2021) malam.

Presiden BEM KM UBB, Rio Saputra, menyatakan kritik digital dan julukan itu diberikan kepada Gubernur Bangka Belitung, lantaran bentuk kekecewaan pihak BEM KM UBB setelah berulang kali permintaan audensi kepada yang bersangkutan tak kunjung digubris.

Kedatangan BEM KM UBB, kata Rio, untuk membahas berbagai persoalan yang terjadi di Bangka Belitung. Salah satu dan awalnya yaitu terkait permasalahan buruh di Bangka Belitung. Kala itu, memang bertepatan pada Hari Buruh Internasional.

Selain permasalahan buruh, kritik lainnya yang disampaikan yaitu terkait konflik antara nelayan dan penambang.

BEM KM UBB pun menilai sosok Gubernur Bangka Belitung terkesan sering menghindar alias menghilang serta menutup diri terhadap masukan-masukan dan ruang diskusi dari masyarakat atau dari kalangan mahasiswa.

"Julukan tersebut kami berikan sebagai bentuk dari kekecewaan kami kepada Gubernur Babel, dimana dimulai pada may day beberapa waktu yang lalu saat KM UBB mengirimkan surat audiensi sebanyak tiga kali tetapi tidak ada respon dari Gubernur," ujarnya, Senin (19/7/2021). 

"Iya (bertepatan Hari Buruh Internasional-red), bahkan sebelum 1 Mei tepatnya tanggal 28 kami sudah mengirim surat," katanya saat dikonfirmasi Wow Babel.

Selain itu, BEM KM UBB juga menanyakan keberadaan Gubernur Bangka Belitung ketika terjadinya konflik antara penambang dan nelayan di Pantai Matras, Kabupaten Bangka, baru-baru ini.

"Selain itu melihat beberapa hal yang terjadi di masyarakat nelayan. Contohnya beberapa waktu yang lalu ketika ada ultimatum dari masyarakat nelayan yang meminta Gubernur untuk menemui mereka langsung di kapal KIP yang sedang mereka duduki tetapi tidak diindahkan," katanya. 

"Kami menilai Gubernur sering 'ngilang' ketika jadi sudah layak diberi julukan itu," tukasnya.

Teruntuk atas berbagai persoalan itu, BEM KM UBB berharap kepada Gubernur Bangka Belitung agar tidak lagi menutup diri kepada mahasiswa dan masyarakatnya yang ingin bertemu menyampaikan aspirasi.

"Segala permasalahan yang ada di Babel ketika memang yang kewenangan untuk menyelesaikan itu ada di pemerintah pusat, Gubernur harus tegas dan ada bersama masyarakat dan tentunya mahasiswa akan terus untuk memperjuangkannya agar masyarakat khususnya di Babel dapat berkurang penderitaannya," pungkas Rio. (hdd/wb)



MEDSOS WOWBABEL
OPINI KITE