Warga Desa Pangkal Niur dan Banyuasin Pertahankan Hutan Adat Desa

Jurnalis_Warga    •    Senin, 05 Juli 2021 | 16:14 WIB
Opini
Janovan Tiranda (Walhi Bangka Belitung).(ist)
Janovan Tiranda (Walhi Bangka Belitung).(ist)


Oleh : Janovan Tiranda (Walhi Bangka Belitung)


Hutan memiliki peranan penting bagi sumber penghidupan manusia, selain itu juga memiliki fungsi ekologis bagi keberlangsungan makhuk hidup di sekitarnya. Akses terhadap hutan, faktor utama yang dibutuhkan masyarakat untuk dapat memanfaatkan dan mengelola secara arif dan bijaksana. Masyarakat Desa Pangkal Niur dan Desa Banyuasin di Kabupaten Bangka misalnya, memiliki skema tersendiri terhadap tata kelola hutan yang masih mereka miliki.

Masyarakat Desa Pangkal Niur masih memiliki dua kawasan hutan yang masih bisa dimanfaatkan secara kolektif bagi masyarakat sekitar untuk memenuhi kebutuhan, yang pertama kawasan Hutan Lelap Selan kurang lebih sekitar 500 hektar yang dimanfaatkan sebagai lahan padi ladang masyarakat, yang telah di bentuk kelompok-kelompok setiap keluarga dengan menggunakan metode secara tradisional dan bergotong royong. Dari hasil panen tersebut bisa bertahan 6 bulan hingga satu tahun sebagai lumbung pangan masing-masing keluarga. 

Kemudian kawasan Hutan Bukit Tukak yang memiliki luas sekitar 275 hektare. Hutan ini telah ditetapkan sebagai hutan adat dalam musyawarah dan dituangkan dalam perataturan desa terkait larangan dan aturan pemanfaatan bagi masyarakat. Seperti adanya batasan dalam pengambilan kayu dan adanya pajak dari setiap pohon yang diambil untuk diberikan terhadap kebutuhan masjid desa. 

Selain itu bagi masyarakat, Hutan Adat Bukit Tukak juga  memiliki manfaat yang begitu besar, dari fungsi ekologis misalnya menjaga sumber air bersih, mencegah terjadinya bencana karena lokasi desanya dekat dengan pesisir dan memiliki bentang tanaman mangrove yang cukup panjang. Kemudian pemanfaatan sebagai obat-obatan tradisional oleh masyarakat yang sudah diwarisi oleh leluhur mereka sejak dulu.

Sama halnya dengan masyarakat Desa Banyuasin, yang masih memiliki sisa dua kawasan hutan untuk diakses dan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Yang pertama Hutan Cadang atau Hutan Masjid seluas 24 hektare, setiap pengambilan kayu di hutan tersebut dikenakan pajak yang biasanya disebut infaq masjid. Karena hasil pajak yang didapat sepenuhnya dan dikelola untuk keperluan masjid, hal tersebut telah disepakati melalui hasil musyawarah masyarakat itu sendiri. 

Kemudian Hutan Perica merupakan hutan warisan para orang kampung, hutan ini tidak memiliki aturan yang begitu mengikat, masyarakat bebas bisa mengambil kayu dan hasil hutan hanya saja susai kebutuhan dan tidak boleh secara berlebihan.

Menurut keterangan dari masyarakat kedua desa tersebut, mereka memiliki kesamaan faktor yang menjadi alasan mengapa mereka masih mempertahankan dan mengatur tata kelola hutan tersebut. 

Yang pertama Hutan merupakan warisan dari para leluhur dan orang tua yang telah dititipkan, jika hutan hilang maka tradisi dan budaya juga turut hilang, yang kedua sebagai sumber ramuan/racikan obat-obatan tradisional yang berguna bagi kesehatan masyarakat setempat, ketiga untuk memenuhi kebutuhan ekonomi seperti kebutuhan perekebunan, membangun fasilitas pribadi sperti pondok atau rumah, atau fasilitas umum seperti masjid yang tentunya dilakukan dengan arif dan bijaksana.

Terdapat cerita yang menarik dibalik hutan yang masih tersisa dan dipertahankan oleh masyarakat kedua desa tersebut. Mereka pernah berjuang melawan perusahaan kelapa sawit yang mencoba ingin menguasai hutan yang tersisa di desa mereka. Akan tetapi masyarakat bersepakat tidak bersedia memberikan hutan yang masih tersisa tersebut untuk kepentingan dan keuntungan pribadi. Karena bagi mereka menjual hutan tersebut sama saja dengan menjual kehidupan.

Walhi Bangka Belitung mendorong masyarakat desa bersama pemdes untuk mengajukan kawasan-kawasan hutan tersebut melalui skema perhutanan sosial untuk mendapatkan legalitas dalam mengakses hutan tersebut, meilhat kayanya manfaat, budaya, dan juga historis yang begitu luar biasa bagi masyarakat setempat.(*)




MEDSOS WOWBABEL