Perdagangan Burung Ilegal, Balai Gakkum KLHK Kalimantan Tetapkan Tiga Tersangka

Tim_Wow    •    Sabtu, 03 Juli 2021 | 21:34 WIB
Nasional
Penyidik Balai Gakkum KLHK Wilayah Kalimantan Seksi Wilayah II Samarinda saat mengamankan barang bukti dalam kasus perdagangan burung secara ilegal.(ist)
Penyidik Balai Gakkum KLHK Wilayah Kalimantan Seksi Wilayah II Samarinda saat mengamankan barang bukti dalam kasus perdagangan burung secara ilegal.(ist)

SAMARINDA,www.wowbabel.com -- Penyidik Balai Gakkum KLHK Wilayah Kalimantan Seksi Wilayah II Samarinda dalam sepekan terakhir yakni tanggal 2 hingga 29 Juni 2021, berhasil mengungkap dan menghentikan perdagangan ilegal burung di Samarinda dan Balikpapan yang akan dikirim ke Surabaya dan Pare-pare (Sulawesi Selatan). 

Dalam kasus ini penyidik telah menetapkan tiga tersangka, masing-masing berinsial S (42), Y (32) dan MN (37) dan mengamankan 597 ekor burung yang terdiri dari 222 ekor cucak hijau, 5 ekor serindit, 287 ekor jalak kerbau, 13 ekor beo, 17 ekor cililin, 32 ekor perkutut, 20 ekor lincang dan 1 ekor kapas tembak.

“Keberhasilan penanganan kasus ini tidak terlepas dari kerja sama yang telah terjalin dengan baik antara Balai Gakkum KLHK Wilayah Kalimantan, Balai Karantina Pertanian Kelas I Balikpapan, BKSDA Kalimantan Timur, Polda Kalimantan Timur, Polresta Samarinda, Kejaksaan Tinggi Kalimantan Timur dan masyarakat,” kata Subhan, Kepala Balai Gakkum KLHK Wilayah Kalimantan mengapresiasi kerja sama yang telah terjalin dengan baik dari berbagai lembaga di Kalimantan Timur, Jumat (2/7/2021).

Penyidik menitipkan tersangka Y dan MN di Rumah Tahanan Polresta Samarinda, sedangkan S dititipkan di Rumah Tahanan Polda Kalimantan Timur di Balikpapan. Barang bukti berupa 597 ekor burung berbagai jenis saat ini diamankan di Kantor Balai Gakkum KLHK Wilayah Kalimantan di Samarinda dan Kantor BKSDA Kaltim SKW III Balikpapan.

Penyidik mengenakan tersangka melanggar Pasal 21 Ayat 2 Huruf a Jo. Pasal 40 Ayat 2 Undang-Undang No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dengan ancaman pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp 100 juta.

Pengungkapan kasus ini berawal dari penghentian penyelundupan 16 ekor cucak hijau tanggal 5 Mei 2021 dan 359 ekor berbagai jenis burung tanggal 18 Juni 2021 oleh Polsek KP3 Semayang Balikpapan dan Balai Karantina Pertanian Kelas I Balikpapan di Pelabuhan Semayang Balikpapan. 

Menindaklanjuti kasus itu, Tim Satuan Polisi Kehutanan Reaksi Cepat (SPORC) Brigade Enggang pengumpulan bahan dan keterangan yang kemudian dilanjutkan dengan operasi penegakan hukum bersama Direktorat Reserse Krimsus Polda Kalimantan Timur dan Satreskrim Polresta Samarinda.

 Tim berhasil menangkap Y di kios burung miliknya di Jalan Tarmidi Samarinda pada 25 Juni 2021. Tim menangkap  MN di kios burung miliknya di Jalan Pangeran Untung Suropati Samarinda pada 28 Juni 2021, dan S di dalam KM Mutiara Ferindo 2 saat bersandar di Pelabuhan Semayang Balikpapan pada tanggal 29 Juni 2021 lalu.

 Penyidik Balai Gakkum KLHK Wilayah Kalimantan bersama Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Kalimantan Timur saat ini masih mengembangkan kasus untuk mengungkap jaringan perdagangan ilegal burung antar pulau ini.(wb)








MEDSOS WOWBABEL