Setelah China, Pasokan Timah dari Kongo Juga Terganggu

Tim_Wow    •    Jumat, 28 Mei 2021 | 10:42 WIB
Ekonomi
Ilustrasi (net)
Ilustrasi (net)

PANGKALPINANG, www.wowbabel.com --  Setelah China membatasi pasokan listrik kepada pabrik peleburan timah di Provinsi Yunnan, pasokan timah dunia makin terganggu akibat gunung berapi dan gempa vulkanik di perbatasan Republik Demokratik Kongo dan Rwanda. Diperkirakan pasokan timah akan normal kembali hingga sebulan kedepan.

Asosiasi Timah Internasional (ITA) dalam keterangan resminya mengatakan bahaya geologi di dekat Goma, di perbatasan Kongo dan Rwanda  telah mengganggu pasokan konsentrat timah untuk sementara.

Gunung Nyiragongo di utara kota meletus, Sabtu (21/5/2021) mengakibatkan gempa bumi  yang terbesar berkekuatan 5.1 SR  merusak bangunan di seluruh kota.

"Besarnya kerusakan  menimbulkan kekhawatiran di industri timah bahwa konsentrat yang sangat dibutuhkan akan menghadapi gangguan ekspor," ujar pejabat ITA di kutip dari internationaltin.org, Kamis (27/5/2021).

Kongo menghasilkan 8% dari timah-in-konsentrat di dunia,  merupakan bagian penting dari rantai pasokan untuk  Asia dan smelter Cina. Kivu Utara, di mana Goma adalah ibu kota provinsi, adalah salah satu daerah penghasil timah utama negara.

Alphamin, produsen utama timah di kawasan itu, mengeluarkan pernyataan pada Rabu (26/5/2021) menyatakan bahwa jalur ekspornya tidak melintasi Goma. Sebaliknya, material menuju ke utara, melalui kota Beni. Dari Beni, konsentrat kemudian menyeberang ke Uganda, ke depo Gerald Metals di Kampala. Lalu dikirim ke Mombasa, Kenya untuk dieksppr ke pabrik peleburan di Asia. 

Salah satu sumber yang dekat dengan produsen di wilayah tersebut menyarankan bahwa sekitar 200-250 ton konsentrat (berat kotor) dibawa melalui Goma setiap bulan.  Konsentrat timah mengandung sekitar 50-70% logam atau sekitar 100-175 ton timah dalam konsentrat bisa terganggu.

Alphamin mengharapkan izin ekspor kembali normal pada minggu pertama Juni.

"Saat ini tidak jelas kapan Goma akan dinyatakan aman kembali, dan kantor pemerintah akan dibuka kembali. Namun, saat ini kami mengharapkan produsen di Kivu Utara untuk terus beroperasi, meskipun ada penundaan pemberian izin ekspor. Kemungkinan besar adalah penumpukan stok konsentrat dalam jangka pendek, diikuti oleh ekspor yang lebih besar setelah izin dapat diperbarui," tulis ITA. (wb)



MEDSOS WOWBABEL