Kekurangan Pasokan Mendorong Harga Timah Naik Lagi, Dekati 30.000 Per Ton

Tim_Wow    •    Kamis, 27 Mei 2021 | 10:48 WIB
Ekonomi
Ilustrasi (net)
Ilustrasi (net)

PANGKALPINANG, www.wowbabel -- Setelah sepekan terus melemah, harga timah di pasar dunia mulai naik lagi. Kekurangan pasokan sebagai penyebab terkereknya harga timah yang kembali mendekati USD 30.000 per metrik ton. Harga timah pada Mei 2021 sempat menembus rekor tertinggi USD 30.650 per ton pada pekan kedua bulan ini.

Shanghai Metal Market (SMM) mencatat, harga timah kontrak tiga bulan di London Metal Exchange (LME)  ditutup naik 0,78 persen pada USD 29.760 per metrik ton pada hari Rabu sore. Kontraknya terus berfluktuasi tinggi. 

"Dampak sentimen makro baru-baru ini terhadap tren komoditas harus dipantau. Kekurangan pasokan masih mendukung harga timah. Tekanan di atas akan terlihat dari USD 30.500 per metrik ton hari ini," kata analis pasar SMM dikutip dari news.metal.com, Kamis (27/5/2021).

Kontrak timah di pasar Shanghai Futures Exchange (SHFE)  yang paling likuid naik 0,32 persen menjadi 198.050 yuan per metrik ton  pada Rabu malam. Kontraknya terus berfluktuasi tinggi. 

"Penghentian pabrik peleburan skala besar yang disebabkan oleh pemadaman listrik di Yunnan menyebabkan kekurangan pasokan spot untuk mendukung harga timah. Diharapkan kontrak akan terus berfluktuasi kuat dalam waktu dekat," ujarnya.

Sedangkan Asosiasi Timah Internasional (ITA)  memperkirakan smelter di China akan ditutup selama 10 hingga 20 hari,sehingga berdampak pada produksi timah olahan hanya sekitar 1.000 - 2.000 ton akibat pematasan produksi setelah berkurangnya pasokan listrik. 

Tenaga air adalah sumber utama listrik di provinsi Yunnan, ditambah dengan batu bara, angin, dan tenaga surya . Karena kekeringan di wilayah tersebut, permukaan air di waduk utama berkurang. Dikombinasikan dengan pengurangan penyimpanan batubara,  pemerintah provinsi Yunnan menjaga pembangkit listrik pada tingkat yang biasa. Alhasil, smelter di kawasan itu diminta mengurangi konsumsi listriknya.

 "Untuk mengatasi keterbatasan kapasitas daya, semua perusahaan besar di provinsi Yunnan terpaksa mengurangi konsumsi. Menurut penelitian  ITA, hanya smelter swasta yang akan terkena dampak dan harus menghentikan aktivitas peleburan dan pemurnian," tulis juru bicara ITA di internationaltin.org, Rabu (26/5/2021). (wb)



MEDSOS WOWBABEL