Spanduk Larangan Diabaikan, Penambang Liar di Lahan Eks PT Koba Tin Terkesan Makin Berani

Herdian wow    •    Sabtu, 24 April 2021 | 15:24 WIB
Lokal
Spanduk larangan menambang yang dipasang di sekitar lahan eks PT Koba Tin di kawasan Marbuk.(her/wb)
Spanduk larangan menambang yang dipasang di sekitar lahan eks PT Koba Tin di kawasan Marbuk.(her/wb)

KOBA, www.wowbabel.com -- Entah tidak bisa baca atau memang sengaja melawan hukum, para penambang liar justru semakin berani dan terang-terangan melakukan aktivitasnya di kawasan eks PT Koba Tin, yakni Marbuk, Pungguk dan Kenari di Kecamatan Koba.

Pada Sabtu (24/4/2021) pagi suara bergemuruh dari mesin tambang timah liar tersebut masih terdengar oleh  warga di Gang Sekip Kelurahan Berok Kecamatan Koba.

Padahal di lokasi yang berada di pusat Kota Koba tersebut, sejak sepekan lalu sudah terpampang spanduk larangan menambang berikut konsekuensi hukum bagi pelanggarnya. Bahkan sebelumnya, pihak Kecamatan Koba dan hingga aparat penegak hukum sudah sering kali bersosialisasi dan memperingatkan para penambang.

Sebelumnya dari pihak Kecamatan Koba dan Polsek Koba sudah menegaskan bahwa aktivitas tambang timah di lokasi tersebut merupakan aktivitas yang ilegal dan bertentangan dengan hukum.

"Kami sudah menjalankan tugas sebagaimana mestinya, dengan sosialisasi dan memperingatkan para penambang jika aktivitas mereka dapat berdampak rusaknya lingkungan," ungkap Kasi Trantib Kecamatan Koba, Primadoni

Sedangkan Kapolsek Koba Iptu Martuani Manik mengungkapkan, pihaknya sudah seringkali melakukan razia penertiban bahkan spanduk peringatan sudah dipasang di lokasi tersebut.

"Sosialisasi sudah kami lakukan, peringatan jika aktivitas tambang timah di kawasan Marbuk, Pungguk dan Kenari dan sekitarnya adalah ilegal, penertiban sebelumnya, hingga memasang spanduk larangan menambang juga sudah dilakukan," ungkapnya

Sementara itu, satu dari sekian warga Kelurahan Berok, Sin mengungkapkan bahwa keluarganya merasa terganggu dengan suara bising dari mesin TI belum lagi dampaknya.

"Pagi tadi mulai dari sekitar pukul 06.00 WIB, ada suara gemuruh, kami kira ada pesawat lewat eh ternyata suara itu berasal dari suara mesin tambang di Kolong Marbuk, Kenari dan Pungguk," ungkapnya

Ia menegaskan, jika hal ini sudah meresahkan warga masyarakat. Ia pun berharap ada langkah tegas dari aparat hukum agar para penambang timah ilegal itu jera sejera-jeranya tidak hanya sebatas imbauan dan sosialisasi saja. 

"Beberapa tahun lalu, pernah terjadi banjir besar akibat jebolnya kolong dan meluapnya Sungai Berok yang semakin hari semakin mendangkal ini. Akankah harus menunggu tanggul kolong jebol dan banjir, akses transportasi lumpur, baru akan ada tindakan. Sementara para penambang hingga para pengkoordinir aktivitas di sana, santai-santai saja di atas penderitaan orang lain," tegasnya. 

Sedangkan Piter, warga Simpang Perlang merasa jengah dan janggal, karena para penambang di seputaran Kolong Marbuk Kenari Pungguk itu terkesan tak takut hukum, kondisi ini jadi dinamika tersendiri antara yang mengatasnamakan kepentingan perut, atas nama masyarakat hingga dugaan para mengkoordinir untuk meraup untung pribadi.

"Jangan mengatasnamakan masyarakat demi keuntungan pribadi, penambang di seputaran kolong Marbuk Kenari Pungguk itu, bukan mau cari makan, tapi cari kaya, dengan cara ilegal. Negara dirugikan akibat tak adanya pajak, masyarakat luas pun terdampak akibat suara bising hingga bencana alam banjir. Sementara para penambang, hingga para pengkoordinirnya berleha-leha di atas penderitaan orang banyak," tukasnya. (her/wb)




TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL