Nujuh Jerami Jaman Now

Jurnalis_Warga    •    Jumat, 23 April 2021 | 14:12 WIB
Lokal
Iskandar Zulkarnain, Dosen Sosiologi FISIP Universitas Bangka Belitung.(ist)
Iskandar Zulkarnain, Dosen Sosiologi FISIP Universitas Bangka Belitung.(ist)


Oleh: Iskandar Zulkarnain, Dosen Sosiologi FISIP Universitas Bangka Belitung

Pesta adat Nujuh Jerami Suku Mapur di Air Abik Kecamatan Belinyu akan diselenggarakan bertepatan dengan tanggal 24 April 2021. Sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Kepulauan Bangka Belitung sejak tahun 2015, Nujuh Jerami mengalami transformasi kultural dari hanya sebagai tanda syukur atas hasi lpanen dan tradisi saling berkunjung antar kerabat ke reformulasi nilai-nilai yang menginternal dan mempunyai kekuatan untuk menggerakkan. 

Kekuatan itu bertumpu pada upaya merekonstruksi identitas kolektif dan entitas yang terpinggirkan di tengah pertarungan mozaik budaya yang elok dan ancaman modernitas di daerah pinggiran. Tulisan ini hendak merekonstruksi makna Nujuh Jerami sebagai simbol identitas baru Suku Mapur abad milenial.  

Sekilas Nuju Jerami

Nujuh Jerami dimaknai sebagai momentum warga adat Mapur mengungkapkan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah dan secara khusus, ungkapan terimakasih kepada leluhur yang telah menjaga ladang dari kekeringan, serangan hama, dan gagal panen. Kesyukuran diwujudkan dalam bentuk saling mengunjungi antar kerabat dan tetangga, sambil menikmati suguhan hidangan nasi dari beras merah lengkap dengan lauk paukyang disediakan oleh hampir setiap rumah tangga warga adat di Dusun Air Abik, Pejem, dan Bukit Tulang.

Nujuh Jerami juga identik dengan ritual merik mese bereje, memberi makan arwah leluhur dengan meletakkan sesajen di tempat-tempat tertentu dan ritual “malet” yakni tradisi menyentuh alat-alat yang digunakan dalam bertani seperti parang, kapak, alu dan lesung dengan beras merah. Ritual ini dipimpin ketua adat dengan tujuan mengharap berkah pada masa tanam tahun mendatang. 

Tradisi Nuju Jerami Suku Mapur memiliki beberapa nilai yang dapat dijadikan sarana pembelajaran sekaligus refleksi. Nilai kebersamaan diwujudkan dalam praktik sistem besaoh, kebiasaan saling membantu pada proses menanam dan memanen padi ladang secara bersama-sama dan bergantian. Keunikan dari sistem besaoh terletak pada organisasi tolong menolong dan kegiatan sosial. Kegiatan tolong menolong sebagai ciri khas kegiatan besaoh ditandai dengan sikap saling membantu, rasa sukarela, dan kolektif. 

Aktivitas menebas lahan dilakukan secara berkelompok terdiri dari laki-laki dengan menggunakan peralatan sendiri seperti kapak dan parang, bergiliran dari lahan satu ke lahan yang lainnya tanpa diupah. Pemilik lahan sebagai pemimpin kelompok menyediakan makanan dan minuman yang disantap secara bersama-sama saat jeda istirahat.



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL