Logam Tanah Jarang Mineral Strategis Masa Depan

Firman    •    Senin, 05 April 2021 | 18:46 WIB
Nasional
Dirjen Minerba Kementerian ESDM, Ridwan Djamaludin.(fn/wb)
Dirjen Minerba Kementerian ESDM, Ridwan Djamaludin.(fn/wb)

PANGKALPINANG,www.wowbabel.com -- Kasus tertahannya 200 ton zircon yang akan dikirim ke China menjadi perhatian. Pasir zircon asal Bangka Belitung selama ini leluasa diekspor. Padahal dari zircon ini ditengarai masih memiliki kandungan mineral lain yang nilainya sangat berharga, yakni Logam Tanah Jarang (LTJ). 

Untuk mengetahui kemungkinan masih terdapat mineral lain yang dikenal dengan Logam Tanah Jarang  atau rare earth inilah Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) memeriksa sampel dari 200 ton zirkon yang siap ekspor di Pelabuhan Pangkalbalam, Provinsi Bangka Bleitung, Minggu (4/4/2021).

“Ada program nasional, kita buatkan perencanaan supaya LTJ yang ada di Indonesia ini bisa diolah dan dimanfaatkan sebagai material masa depan,” ungkap Ridwan Djamaludin Dirjen Minerba saat meninjau langsung zirkon di Pelabuhan Pangkalbalam, Senin (5/4/2021).

Ridwan menjelaskan peta jalan pengembangan LTJ di Indonesia bertujuan meningkatkan kegiatan eksplorasi dan implementasi person dalam estimasi sumber daya dan cadangan mineral. 

Peta jalan ini juga bertujuan agar investasi serta pengawasan pengelolaan mineral ikutan timah hasil pengelolaan yang mengandung LTJ dan menugaskan BUMN sebagai pengumpul dan pengolahan monasit di dalam negeri.

LTJ di Bangka Belitung merupakan salah satu mineral yang banyak ditemukan pada pasir monasit yang merupakan hasil samping produk timah. LTJ umumnya juga ditemukan bersamaan dengan mineral radioaktif uranium dan torium di alam. 

Dalam aturan turunan dari Undang-undang Nomor 3 Tahun 2020, LTJ masuk dalam golongan mineral logam yang bisa diusahakan. Perubahan kebijakan ini mempertimbangkan perkembangan yang ada, termasuk kebutuhan ke depan untuk pengelolaan LTJ sebagai komoditas strategis. 

"Kalau yang dulu, itu kan belum diatur. Karena masih merupakan mineral ikutan dari timah dan sebagainya dan ada unsur-unsur radio aktifnya. Sehingga harus dipisahkan. Sekarang sudah bisa diusahakan dan aturannya sudah saya sampaikan kepada kawan-kawan media di sini," ujarnya.

Direktorat Jenderal Minerba Kementerian ESDM mengungkapkan, untuk tatakelola ekspor zirkon dan logam tanah jarang (LTJ) memiliki syarat yang berbeda. Aturan itu menjelaskan tentang persyaratan ekspor zirkon, ekspor LTJ dalam bentuk ilmenit, dan eskpor LTJ dalam bentuk monasit dan xenotim.

Persyaratan ekspor LTJ dalam bentuk Ilmenit telah memenuhi batasan minimum pengolahan hingga menjadi konsentrat. Perusahaan juga memerlukan rekomendasi ekspor yang hanya bisa dilakukan oleh pemegang IUP yang membangun smelter. Smelter dapat melakukan ekspor LTJ dalam bentuk ilmenit secara terbatas sampai 31 Desember 2021.

Sedangkan persyaratan ekspor LTJ dalam bentuk monasit dan xenotim harus lebih dahulu dipisahkam menjadi REOH/REO. Kemudian dapat diekspor setelah memenuhi batasan minum REOH/REO dan  LS (laporan survey) untuk verifikasi batasan mininum pengolahan.(fn/wb)




TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL