Transformasi Layanan Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial

Jurnalis_Warga    •    Kamis, 18 Maret 2021 | 14:45 WIB
Opini
Ilustrasi.(net)
Ilustrasi.(net)


Oleh: Muhammad Nur Aiman (Siswa SMAN 1 Pemali)


Perpustakaan merupakan kata yang  tidak asing bagi kita. Ketika mendengar perpustakaan,dengan seketika terbayang rak-rak dan lemari yang berjejer yang dipenuhi  buku. Buku-buku yang tersedia memiliki berbagai ukuran,ada yang besar ada yang kecil,ada yang tebal ada yang tipis, tergantung dari bagaimana penulis menguraikan gagasan intelektualnya dalam bentuk buku. Beragam ide dituangkan oleh masing-masing penulis dengan tujuan tertentu, sebagai intisari dari munculnya buku-buku tersebut. 

Ada buku fiksi,yang mengajak semua orang untuk mengasah imajinasi, seperti buku Laskar Pelangi yang ditulis oleh Andrea Hirata pada tahun 2005 berdasarkan perjalanan hidup pribadinya. Ada pula buku non fiksi yang lebih  kepada pengetahuan yang ingin disampaikan. Pada dasarnya buku-buku yang tersedia mengajak pembaca untuk memperluas wawasan dan melengkapi kebutuhan akan sebuah referensi bagi suatu kepentingan.

Sebagaimana disebutkan dalam  Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007, perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi,danrekreasi para pemustaka. 

Sedangkan istilah  pemustaka sendiri adalah sebutan yang melingkupi siapa pun yang menggunakan sumber daya dan jasa koleksi perpustakaan. Pemustaka terdiri dari berbagai lapisan dalam sosial masyarakat. Bisa dari kaum pelajar tingkat pendidikan dasar sampai dengan pendidikan tinggi, termasuk juga masyarakat awam. Dengan diaturnya tugas dan fungsi pokok perpustakaan dalam Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 menunjukkan betapa keseriusan pemerintah dalam pemaksimalan operasional dankontribusi perpustakaan untuk melayani segenap rakyat Indonesia

Pada era baru literasi 4.0 dewasa ini, di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung khususnya, perpustakaan idealnya memiliki fungsi yang lebih luas dari sekedar  upaya untuk memelihara dan meningkatkan efisiensi serta efektivitas proses belajar mengajar. Perpustakaan kini diharapkan  menjadi sarana bagi masyarakat untuk meningkatkan keterampilan. Dengan demikian, akan berdampak positif untuk kesejahteraan. Masyarakat akan memiliki sesuatu yang berguna untuk meningkatkan kehidupan perekonomian mereka. Namun disinilah titik poin kelemahan kita, buku-buku yang tersedia di perpustakaan hanya bisa mengajarkan  teori demi teori,belum sampai kepada tahap untuk merasionalkannya dalam bentuk sebuah produk ataupun sebuah karya. 

Mengapa demikian? karena sebelum dicetuskannya program transformasi layanan  perpustakaan berbasis inklusi sosial oleh Perpustakaan Nasional RI, memang tugas perpustakaan seolah-olah diinterpretasikan seperti itu. Program mentransformasikan layanan  perpustakaan  saat ini, bertujuan memberikan dampak secara langsung bagi masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat. Dengan demikian, manfaat perpustakaan lebih bisa dirasakan bagi orang banyak.

Lebih lanjut, tenaga ahli madya perpustakaan nasional, Nelwaty pada acara  Sosialisasi Pembudayaan Kegemaran Membaca, di Lantai IV Kantor Gubernur Kabupaten Maluku Utara, Puncak Gusale, Sofifi, Senin (26/8/2019) meneyebutkan bahwa perpustakaan berbasis inklusi sosial merupakan perpustakaan yang memfasilitasi masyarakat dalam mengembangkan potensinya dengan melihat keragaman budaya, kemauan untuk menerima perubahan, serta menawarkan kesempatan berusaha, melindungi dan memperjuangkan budaya dan hak asasi manusia," .

Nah, negeri Bangka Belitung yang begitu mengesankan  dengan kekayaan sumber daya alam dan kearifan budaya lokal, apabila tidak dimanfaatkan secara efektif dan optimal oleh sumber daya manusianya, maka akan menjadi hal yang sia-sia. Kekayaan alam yang meliputi pertambangan, pertanian, serta pariwisata merupakan peluang pendapatan finansial  bagi  masyarakat. Namun, jika hanya mengandalkan keindahan dan keuntungan agraris yang dimiliki, peluang  itu tidak akan bersifat permanen. 

Sebab  tidak berkembangnya cara masyarakat dalam  pemanfaatan hal itu. Disinilah tugas perpustakaan untuk mendorong keterampilan masyarakat dalam mengolah hasil alam menjadi sebuah produk yang lebih berharga dan meningkatkan nilai dari barang tersebut, contohnya timah. 

Salah satu produk yang dapat ditawarkan dan layak untuk dikembangkan bagi daerah bergelar  Negeri Serumpun Sebalai ini  adalah kerajinan gantungan kunci berbahan pewter sebagai cenderamata bagi para wisatawan. Mengingat para wisatawan dari luar membutuhkan sesuatu yang bisa diidentikkan sebagai asli Bangka Belitung. Pewter ini dibuat dengan bahan dasar timah sebanyak 97 % dan tembaga serta antimoni sebesar 3%.  Namun sangat disayangkan pengembangan kerajinan khas Bangka Belitung ini sangat minim dalam hal minat produksinya. 

Menurut Sekretaris Dewan Kesenian Pangkalpinang, Eri Handoko, kini  total ada enam pengrajin saja, tiga di Pangkalpinang, dua di Muntok, Bangka Barat, satu di Kabupaten Bangka dan satu orang di Belitung. Hal ini terjadi karena kurangnya pelatihan dan usaha untuk menarik minat masyarakat oleh pemerintah sehingga membuat belum bertambahnya jumlah pengrajin pewter.



MEDSOS WOWBABEL