Antisipasi PIP, Nelayan Pangkal Niur Pasang Patok di Perairan Sunor Lestari dan Pulau Dante

Hafiz Wow    •    Selasa, 16 Maret 2021 | 16:07 WIB
Lokal
Ratusan nelayan dan masyarakat Desa Pangkal Niur, Kecamatan Riau Silip, membuat patok batas laut di perairan Pantai Sunor Lestari dan Pulau Dante, Minggu (14/3/2021) kemarin.(ist)
Ratusan nelayan dan masyarakat Desa Pangkal Niur, Kecamatan Riau Silip, membuat patok batas laut di perairan Pantai Sunor Lestari dan Pulau Dante, Minggu (14/3/2021) kemarin.(ist)

RIAUSILIP, www.wowbabel.com -- Ratusan nelayan dan masyarakat Desa Pangkal Niur, Kecamatan Riau Silip, membuat patok batas laut di perairan Pantai Sunor Lestari dan Pulau Dante, Minggu (14/3/2021) kemarin.

Patok batas tersebut dibuat sebagai bentuk keresahan masyarakat dan nelayan Desa Pangkal Niur karena aktivitas tambang ilegal jenis ponton isap produksi (PIP) di wilayah Perairan Teluk Kelabat Dalam.

Kapala Dusun Satu, Desa Pangkal Niur, Herman mengatakan pihaknya berkomitmen untuk menjaga perairan tersebut. Menurutnya, gotong royong pembuatan patok batas laut tersebut untuk memberikan peringatan kepada penambang untuk tidak beroperasi di Desa Pangkal Niur, yakni Pantai Tanjung Sunor Lestari.

"Saya selaku bagian dari Pemdes Pangkal Niur, tetap mengimbau kepada masayarakat agar tidak anarkis, tujuan kegiatan kami ini hanya untuk memberi bukti kecintaan masayarakat kami agar di wilayah Sunor Lestari tidak diganggu oleh aktivitas pertambangan," kata Herman, Selasa (16/3/2021)

"Hal ini dilakukan karena kekecewaan masayarakat kami yang mana wilayah Sunor Lestari sering diduga dicuri oleh penambang sesuai kesaksian dan laporan nelayan kami, masayarakat Pangkal Niur sudah melakukan Musdes di tahun 2019 yang mana menyatakan dan sepakat bersama bahwasannya wilayah Sunor Lestari tidak boleh ditambang," sambungnya.

Herman juga menyebutkan, meski aktivitas penambangan laut belum masuk ke wilayah Perairan Desa Pangkal Niur, dampak kerusakan lingkungan akibat aktivitas tersebut sudah dirasakan masyarakat.

Menurutnya, aktivitas PIP di perairan Teluk Kelabat Dalam mengakibatkan rusaknya ekosistem bawah laut, hancurnya mangrove, serta adanya limbah pertambangan, seperti oli dan solar. Terlebih, gagalnya panen padi setelah terendam air laut diduga sebagai akibat pendangkalan laut dari aktivitas penambangan.

"Hal lain yang menjadi pemicu masyarakat memasang patok pembatas akibat dari aktivitas pertambangan yang sudah mulai menyempit atau mulai habis sehingga mulai mepet ke wilayah Sunor Lestari, hal ini lah yang menimbulkan kekecewaan masyarakat yang mempertanyakan kedudukan Perda Zonasi yang mengatur wilayah Sunor Lestari atau teluk kelabat dalam zero tambang," tuturnya.

Ia meminta Pemerintah Provinsi Babel segera mengambil langkah tegas dalam melaksanakan Perda RZWP3K yang mengatur wilayah perairan Teluk Kelabat Dalam zero aktivitas tambang.

"Kami sangat menunggu langkah tegas dan penerapan perda zonasi di wilayah Teluk Kelabat dalam yang semestinya zero tambang," tukasnya.(fiz/wb)






TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL