Produksi PIP di Sukadamai Mendadak Turun, Diduga Bocor ke Smelter Swasta

Aston    •    Selasa, 09 Maret 2021 | 15:11 WIB
Lokal
Caption: Ketua RT 01 RW 02 Jalan Nelayan Kelurahan Tanjung Ketapang, Syamsul. (as/wb)
Caption: Ketua RT 01 RW 02 Jalan Nelayan Kelurahan Tanjung Ketapang, Syamsul. (as/wb)

TOBOALI, www.wowbabel.com -- Produksi bijih timah dari 200 Ponton Isap Produksi (PIP) di Perairan Laut Sukadamai, Nelayan, dan Padang Toboali Bangka Selatan (Basel) dikabarkan terjadi penurunan  cukup drastis dalam dua pekan terakhir. Kuat dugaan terjadi penyelewengan hasil produksi dijual  para oknum ke perusahaan smelter swasta, seharusnya hasil produksi ini dijual  ke PT Timah.

Kendati belum ada laporan resmi dari PT Timah terkait produksi PIP di Sukadamai, namun penurunan produksi tersebut bisa dilihat berdasarkan laporan dana kompensasi dari para perusahaan CV mitra Timah kepada masyarakat. 

Ketua RT 01 RW 02 Jalan Nelayan Kelurahan Tanjung Ketapang, Syamsul membenarkan bahwa produksi menurun dalam duan pekan terakhir ini.

"Iya banyak penurunan produksi dalam dua minggu ini total produksi khusus di wilayah kami (Nelayan--red) dari tiga CV sekitar lima ton-an saja, kalau sebelumnya sepuluh sampai belasan ton, sehingga nilai kompensasi juga otomatis akan berkurang," kata Syamsul, Selasa (9/3/2021).

Menurutnya, penurunan tak hanya terjadi di wilayah kerja PIP di Perairan Laut Nelayan, melainkan di Laut Padang dan Sukadamai dilaporkan terjadi penurunan drastis. 

"Sama di Sukadamai dan Padang informasinya  turun juga, gak tau kenapa apa memang hasil berkurang atau timah banyak keluar apalagi sekarang ini harga timah mahal, tapi tidak tau juga ya kita gak berani  menduga-duga, " tutur Syamsul.

Penimbangan Hasil Produksi Dilakukan Malam Hari

Pengawasan hasil produksi juga dikabarkan semakin kendor, terlebih penimbangan hasil produksi setiap harinya berlangsung malam hari sehinga sulit dilakukan pengawasan.

Proses penimbangan produksi tak lagi dilakukan di ponton penimbangan di tengah laut sebagaimana SOP yang telah ditetapkan, melainkan dilakukan di bibir pantai pada malam hari yang seharusnya sampai sore hari saja. 

"Sebenarnya sampai pukul lima sore semuanya harus berenti penimbangan juga sore hari, kalau sekarang sampai malam. Di kami kadang setengah sembilan sampai jam sembilan malam baru selesai,  penimbangan dilakukan di pos penimbangan di bibir pantai," ungkap Syamsul. 

Penimbangan berlangsung malam hari seperti yang diungkapkan Syamsul memang benar terjadi, wowbabel.com sempat melakukan pemantau langsung, Senin (8/3) malam di pantai laut Nek Aji. Penimbangan berlangsung malam hari dan minim pengawasan dari pihak-pihak terkait.  Biji timah diantarkan dari tengah laut oleh pihak perusahaan masing masing ke pos penimbangan tanpa ada pengawalan dan dilakukan pada malam hari. 

Ramai Tambang Siluman

Tak hanya persoalan pengawasan produksi, tambang ilegal dikabarkan mulai marak. Tambang jenis selam diinformasi melakukan penambangan secara ilegal pada malam hari. 

Menurut Syamsul, bahwa TI selam mulai marak dalam beberapa hari terakhir dan bekerja di seputaran Kapal Isap Produksi (KIP). 

" Sudah bukan rahasia umum lagi lah, coba bapak -bapak pantau kalau malam hari ada lampu lampu di sekitar KIP, nah itu TI Selam mereka kerja di belakang KIP. Kerjanya biasanya mulai pukul sepuluh antara sebelas malam," ungkap Syamsul. 

Selain TI Selam, ada PIP siluman  alias PIP tidak mengantongi izin namun ikut beroperasi. Namun, kata Syamsul sekarang kemunkinan mulai berkurang.

" Saat ini mungkin sudah berkurang sejak banyak laporan," tukasnya. (as/wb)



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL