RUPS PT Timah Tbk Tahun Buku 2020, Untung Atau Buntung?

Tim_Wow    •    Selasa, 02 Maret 2021 | 15:44 WIB
Lokal
Ilustrasi (net)
Ilustrasi (net)

PANGKALPINANG, www.wowbabel.com -- PT Timah Tbk akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan pada akhir Maret 2021. Pengumuman rencana RUPS tahun buku 2020 sudah disampaikan kepada para pemegang saham dan Kepala Eksekutif  Pengawas Pasar Modal dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Sekretaris Perusahana Muhammad Zulkarnaen melalui suratnya kepada kepada Dewan Pengawas Eksekutif Pasar Modal OJK mengatakan pelaksanana RUPS sesuai dengan peraturan OJK, Peraturan Bursa Efek Indonesia dan anggaran dasar rumah tangga PT Timah Tbk.

“Bersama ini disampaikan pengumuman Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT timah Tbk Tahun Buku 2020 pada tanggal 30 Maret 2021,” dmeikian suarat Sekper PT Timah Tbk tanggal  19 Februari 2021.

Surat ditujukan ke OJK ini juga ditembukan ke Dirut PT Indonesia Asahan Alumunium (persero), PT BEI, Dewan Komisaris, dan Direksi PT Timah Tbk.

Saat RUPST tahun buku 2019, perusahaan BUMN tambang berkode TINS melaporkan bahwa perseroan mencatatkan kerugian hingga Rp 611,28 miliar sehingga  TINS memutuskan tidak membagikan piden. Padahal tahun sebelumnya, TINS mampu membagikan piden sebesar 35% dari total laba bersih yaitu  Rp 185,97 miliar untuk tahun buku 2018. 

Direktur Utama PT Timah Tbgk M. Riza Pahlevi Tabrani  usai RUPS yang digelar Juni 2020 itu menjelaskan kinerja perseroan terhambat ketika adanya perang dagang disusul oleh pandemi Covid-19. Riza pun menambahkan bahwa harga timah mengalami tekanan dan terkoreksi cukup dalam. Maka tahun 2020, TINS fokus untuk memperbaiki kinerja perusahaan agar kembali prima.

TINS juga akan gencar melakukan efisiensi di semua lini bisnisnya dan fokus untuk melakukan penurunan beban utang.

Dari laporan keungan perusahaan pada Kuartal III tahun 2020 masih mencatat kerugian sebesar Rp 255,16 miliar. Kerugian ini lebih baik dibandingkan kuartal dua yang mencapai Rp 390,07 miliar.

TINS mencatatkan penurunan rugi bersih menjadi Rp 255,16 miliar hingga kuartal III-2020 dibandingkan hingga kuartal II-2020 yang sebesar Rp 390,07 miliar. Namun, rugi bersih hingga kuartal III-2020 masih lebih besar dibandingkan periode sama tahun lalu senilai Rp 175,78 miliar.

Direktur Keuangan Timah Wibisono kala itu mengatakan, penurunan rugi bersih kuartal III dibandingkan kuartal II tahun ini ditopang oleh peningkatan laba kotor menjadi Rp 760,02 miliar hingga September. Peningkatannya sebesar 204% dibandingkan hingga Juni tahun 2020 senilai Rp 249,94 miliar.

Peningkatan laba kotor ini berpengaruh positif terhadap gross profit margin (GPM) perseroan dari 3,13% pada kuartal II- 2020 menjadi 6,4% pada kuartal III-2020. Selain itu, net profit margin (NPM) juga membaik dari sebelumnya -4,89% menjadi 2,15%.

Berbeda dengan laba kotor yang meningkat, perseroan mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 18,42% menjadi Rp 11,88 triliun dibandingkan akhir tahun lalu Rp 14,56 triliun. Sedangkan beban pokok pendapatan turun 17,88% menjadi Rp 11,12 triliun dari akhir 2019 yang mencapai Rp 13,53 triliun.

Sepanjang tahun 2020, pandemi Covid-19 melanda dunia, dampak ekonomi sangat luar biasa, tak terkecuali perusahaan tambang seperti PT Timah Tbk.  Asosiasi Timah Internasional (International Tin Association atau ITA) mencatat tahun 2020 adalah tahun yang sulit bagi produsen timah dunia. Produksi timah dunia turun drastis. Dari 10 perusahaan produsen timah dunia, produksi PT Timah Tbk asal Indonesia yang paling anjlok.

“Tahun 2020 merupakan tahun yang sulit bagi produsen timah. Penyebaran virus Corona menyebabkan banyak negara melakukan tindakan penguncian sehingga menutup pabrik peleburan dan menghentikan produksi,” tulis James Willoghby analis ITA dalam keteragan persnya pertengahan Februari 2021.

 ITA memperkirakan total produksi timah dunia tahun 2020 mencapai 327.200 ton atau  turun hampir delapan persen dibandingkan dengan tahun 2019 yang juga turun sekitar lima persen dari tahun 2018.

Dari daftar yang dikeluarkan ITA, tahun 2020 terdapat 10 besar perusahaan yang memproduksi 69 persen timah dunia. Dari 10 perusahaan ini, produksi timah  turun 76 persen dari tahun 2019.

“Penurunan produksi ini disebabkan oleh penurunan produksi yang signifikan dari PT Timah. Perusahaan ini produksi berkurang lebih dari dua kali lipat pada 2019 setelah peraturan ekspor memaksa banyak pabrik peleburan swasta negara itu menghentikan operasinya,” ujar James dalam siaran pers itu.

Setidaknya menjadi pertanda, jika tahun 2020 adalah kondisi tersulit dialami PT Timah Tbk, penurunan produksi otomatis berkurangnya penjaulan. Harga timah tahun 2020 tidaklah setinggi harga timah diawal tahun 2021. Akankah PT Timah tbk membalikkan kondisi yang buntung menjadi untung? RUPS pada 30 Maret 2021 akan memastikannya. (wb)



MEDSOS WOWBABEL