Depopulasi Pemeluk Agama Adat Etnik Mapur

Tim_Wow    •    Jumat, 15 Januari 2021 | 07:43 WIB
Opini
Iskandar Zulkarnain (Dosen Sosiologi FISIP Universitas Bangka Belitung).(ist)
Iskandar Zulkarnain (Dosen Sosiologi FISIP Universitas Bangka Belitung).(ist)

Oleh: Iskandar Zulkarnain (Dosen Sosiologi FISIP Universitas Bangka Belitung)


Keberadaan etnik Mapur orang Lom terlacak dalam buku “Demography of Indonesia’s Ethnicity” yang disusun Aris Ananta dkk (Ananta dkk, 2015). Keunikan etnik Mapur salah satunya dicirikan oleh adanya perbedaan dan penerapan sistem kepercayaan (religi) dalam kehidupan kelompok. Sistem kepercayaan yang dipahami dalam konteks sosiologi maupun antropologi tidak hanya mengkaji agama-agama profetik tetapi juga keberadaan agama-agama non-profetik seperti halnya agama adat etnik Mapur yang saat ini semakin terancam keberadaannya. Ancaman ini kadang sulit untuk dibendung mengingat proses tranformasi sosial yang terus berlangsung akibat adanya kelompok kepentingan yang mengatasnamakan modernisasi yang mengarah pada terjadinya depopulasi yang disertai dengan meningkatnya mobilitas penduduk, perkawinan silang, faktor penuaan dan mortalitas. 

Berawal dari persoalan-persoalan di atas, tulisan ini ingin melihat fenomena yang menimpa kelompok-kelompok agama atau kepercayaan lokal akibat campur tangan negara melalui kebijakan-kebijakan yang dinilai kontroversial. Agama lokal yang dimaksud disini adalah agama yang dianut oleh komunitas tertentu seperti etnik Mapur yang hadir di tengah-tengah masyarakat Melayu Bangka dengan cara, ajaran serta praktik ritus yang berbeda dengan agama-agama resmi yang ditentukan pemerintah. Persoalannya adalah haruskah pemerintah ikut ambil bagian dalam menentukan persoalan yang dinilai bagian dari privasi suatu komunitas tertentu, padahal fungsi negara seharusnya memberikan hak sipil itu pada penganut yang meyakininya? 

Demografi Etnik Mapur

Secara historis Dusun Air Abik sebagai tempat bermukim salah satu etnik Mapur terbentuk pada tahun 1966 yang berawal dari program relokasi pemerintahan Orde Baru pada tahun 1970-an dengan membangun rumah permanen sebagai salah satu program Proyek Perkampungan Masyarakat Terasing (PKMT). Tujuan utama relokasi adalah untuk memudahkan pendataan penduduk yang tinggal di pedalaman. Berdasarkan informasi dari Kepala Dusun Air Abik, Air Abik memiliki luas sekitar 6.000 ha. Wilayah ini terdiri dari hutan yang dilindungi secara adat, pemukiman penduduk dan lahan garapan pertanian/perkebunan. Jarak dari ibukota kabupaten (Sungailiat) menuju Air Abik sekitar 50 kilometer.

Berdasarkan hasil survey lapangan tahun 2014 oleh Tim Pemetaan Partisipatif Universitas Bangka Belitung (Zulkarnain dan Franto, 2014) jumlah penduduk dan agama yang dianut oleh warga Air Abik berjumlah 630 jiwa dengan komposisi agama adat sebanyak 280 jiwa, Islam sebanyak 246 jiwa, Kristen 87 jiwa, Kongfuchu 11 jiwa, dan Budha 4 jiwa. Komposisi penduduk Air Abik terbagi menjadi 2 kategori. Kategori pertama, penduduk asli Air Abik yang dikenal dengan “Orang Lom” yang masih menganut agama adat, bermata pencaharian sebagai petani tradisional, menetap sebagian di hutan (kebun/ladang) dan sebagian lain bermukim di dusun secara permanen. Kategori kedua, adalah mereka yang berasal dari luar Air Abik karena kepentingan pekerjaan, perkawinan silang, dan menganut agama profetik. Faktor mobilitas penduduk dan perkawinan silang menyebabkan beragamnya komposisi penduduk di Air Abik. Dari sisi bahasa, dialek lokal etnik merupakan dialek melayu dengan bahasa Pelicu (Lihat Smedal,1998) yang sangat berbeda dari dialek Melayu pada umumnya. Pola utama kosakata sebagian besar terdiri dari istilah lokal dan kecepatan bahasa yang luar biasa cepat. Dialek ini dalam proses degradasi dan terancam punah akibat berkurangnya penutur.

Depopulasi Pemeluk Agama Adat

Data tahun 2018, jumlah pemeluk agama adat di Air Abik menurun menjadi 121 jiwa jika dibanding tahun 2014 yang berjumlah 280 jiwa. Kondisi ini terkait erat dengan proses transisi demografi yang menggambarkan perubahan sosial pada entitas kelompok etnik Mapur yang bermula dari agama sebagai penanda etnisitasnya. Dua faktor yang mengancam eksistensi penganut agama lokal etnik Mapur. Faktor internal lebih dipengaruhi oleh pola geneologi (keturunan), perkawinan silang, dan mortalitas alamiah. Dalam tradisi etnik Mapur, setiap anak diberi kelonggaran untuk menentukan pilihan apakah agama adat atau agama profetik. Aturan adat hanya mengatur bahwa setiap keluarga harus menyisakan satu anak sebagai pemeluk sekaligus pewaris agama adat. 

Dalam hal perkawinan, perkawinan antara perempuan adat dengan pendatang penganut agama profetik terjadi begitu intensif mengingat semakin terbukanya interaksi sosial komunitas dengan pihak luar. Keterbukaan itu mendorong laju mobilitas penduduk yang kian meningkat melalui pekerjaan di sektor pertanian, pertambangan timah, dan perkebunan sawit. Faktor penuaan dan mortalitas turut mengancam eksistensi tersebut. Depopulasi penganut agama adat akibat laju mobilitas penduduk menjadi fakta yang sulit dikendalikan. Persoalan internal ini menunjukkan bahwa telah terjadi pergeseran signifikan dalam hal pola keturunan dan tradisi etnik Mapur.



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL