Pilkada dan Kokohnya Hukum Besi Perilaku Memilih

Jurnalis_Warga    •    Kamis, 10 Desember 2020 | 09:18 WIB
Opini
Ranto (Peneliti Demokrasi dan Pemilu).(ist)
Ranto (Peneliti Demokrasi dan Pemilu).(ist)

Oleh: Ranto (Peneliti Demokrasi dan Pemilu)


Perhelatan Pilkada 2020 telah usai. Tahapan paling akhirpun yakni Penetapan Kandidat yang terpilih tinggal menunggu waktu. Apa yang tersisa dari pengalaman pelaksanaan pentas politik kali ini. Pilkada 2020 di Bangka Belitung memberikan banyak catatan dan temuan-temuan yang menarik untuk menjadi potret bagi demokrasi lokal.

Paling tidak ada dua hal yang bisa dicermati. Pertama, semakin memapankan teori atau pola lama yang sudah ada. Kedua, memberikan fenomena baru dalam dinamika politik lokal di Indonesia. Bagian ini akan dimulai dari cerita Pilkada Bangka Tengah yang mengikuti hukum besi teori Perilaku Memilih.

Hasil hitung sementara tim internal kontestan—dan kemungkinan untuk berubah berdasarkan hitung resmi KPU nanti diperkirakan tidak terlalu signifikan—menunjukkan bahwa Pasangan BERIMAN unggul memperoleh dukungan sebanyak 55,6% dan Pasangan BERDIKARI mendapat 44,4% dari masyarakat di Bangka Tengah. Angka ini bagi banyak pihak cukup mengejutkan. Apalagi dari berbagai survei atau penelitian di pengujung berakhirnya masa kampanye Pasangan BERDIKARI masih unggul dari Pasangan BERIMAN.

Lantas fenomena apa yang telah terjadi di Bangka Tengah. Dari catatan politik yang saya lakukan selama mengikuti perjalanan proses demokrasi di Bumi Selawang Segantang dari bulan Juli hingga Desember memberikan informasi yang cukup penting terkait dengan dinamika perilaku memilih masyarakatnya.

Pertama, kalau merujuk dari catatan saya di Bulan Juli 2020, jika Pilkada diikuti oleh 2 pasangan kandidat maka Ibnu Saleh-Herry Erfian dukungan politiknya sebanyak (25%) dan Didit Srigusjaya-Korari Suwondo mencapai (46,7%). Sekiranya incumbent (Ibnu Saleh) tidak meninggal dunia, saya memperkirakan pasangan BERDIKARI bisa menang di angka yang cukup meyakinkan. Kuatnya figur penantang incumbent sekaligus diwaktu yang bersamaan buruknya kinerja incumbent maka akan memuluskan bagi kemenangan kandidat penantang tadi.

Ini mengikuti pola hukum besi perilaku memilih yang masih terjadi jika kita ingin menjelaskan fenomena kekalahan incumbent di Pilkada 2020 ini.

Paska meninggalnya bupati patahana di Bangka Tengah memberikan kesempatan terbaik untuk melihat potensi BERDIKARI sebagai penantang pada waktu itu. Banyak pihak meyakini bahwa pasangan Didit-Korari bisa menang mudah dan menang banyak. Bahkan ada juga yang menyebutkan bahwa pelaksanaan pilkada di Bangka Tengah telah usai. 



MEDSOS WOWBABEL