Wakil Ketua Komisi IV DPR RI: Kerusakan Lingkungan Tidak Bisa Ditukar dengan Sembako

Tim_Wow    •    Kamis, 03 Desember 2020 | 15:07 WIB
Nasional
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Dedi Mulyadi.(ist)
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Dedi Mulyadi.(ist)

JAKARTA, www.wowbabel.com -- Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Dedi Mulyadi, mengingatkan lingkungan tidak bisa dikompensasi dengan uang lantaran kompensasi atau insentif yang didapat hanya untuk bertahan dua hingga tiga tahun, namun kerusakan lingkungan begitu besar.

“Kerusakan lingkungan tidak bisa ditukar dengan sembako atau tanda tangan dukungan Rp100.000, yang seperti ini akan merusak habitat lingkungan masyarakat bagi kepentingan bangsa kita dalam jangka panjang,” ungkap Dedi dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi IV DPR RI dengan Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Bupati Bangka, Bupati Bangka Barat dan Penegakan Hukum (Gakum) Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Dirjen Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan dan Dirjen Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan, di Ruang Rapat Komisi IV DPR RI, Kamis (3/12/2020).

RDP digelar dalam rangka membahas tindak lanjut kunjungan kerja spesifik Komisi IV DPR RI ke Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengenai permasalahan pencemaran lingkungan hidup akibat kegiatan penambangan ilegal dan operasional kapal isap pasir yang berdampak pada nelayan beberapa hari yang lalu.

“Kita bersama-sama berkunjung ke sana, saya termasuk orang yang sangat memiliki konsen terhadap keseimbangan manusia antara alam dan lingkungan karena dalam prinsip-prinsip yang saya miliki bahwa seberapapun kemampuan ekonomi yang kita miliki, seberapapun uang yang kita punyai, tetapi kalau lingkungan sudah terlihat tak seimbang maka semuanya tidak akan ada makna,” ungkap Dedi.

Lebih lanjut dikatakan Dedi, karena kesejahteraan hidup manusia itu adalah keseimbangan antara alam dan lingkungannya.

“Saat kunjungan saya bertemu dengan para nelayan mereka tidak bisa melaut karena jarak antara kapal isap dengan areal di mana mereka mencari ikan sangat dekat dan pasti kapal isap itu memberikan dampak terhadap kerusakan lingkungan. Karang menjadi rusak kemudian juga beberapa spesies ikan sudah mulai ada yang mati. Kemudian daya jangkau mereka untuk ke tengah saya lihat kemampuan kapalnya sangat terbatas sehingga mereka perlu mendapat perlindungan oleh kita semua,” tutur Dedi.

Ditambahkan Dedi, pihaknya akan meminta penjelasan dalam mengambil langkah yang tepat sehingga investasi berjalan tetapi masyarakat harus tetap terjaga keseimbangan lingkungannya dan terjaga juga kemampuan mereka untuk berusaha dalam setiap waktu. Kemudian juga menghitung apakah kapal isap memiliki efek ekonomi yang kuat atau tidak biaya produksinya dengan hasil yang didapatnya bisa tinggi net-nya.

“Kalau misalnya mepet apalagi rugi, kan jadi ruginya berkali-kali, sudah perusahaannya rugi biaya operasionalnya besar hasil yang didapat kecil, tapi kerusakan lingkungan sangat besar resikonya bagi kesinambungannya,” tukas  Dedi.(wb)




TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL