Usaha Tambak Udang Vaname di Babel Belum Miliki Carrying Capacity

Hafiz Wow    •    Senin, 16 November 2020 | 17:03 WIB
Lokal
Dosen Jurusan Akuakultur Universitas Bangka Belitung (UBB), Robin.(fiz/wb)
Dosen Jurusan Akuakultur Universitas Bangka Belitung (UBB), Robin.(fiz/wb)

PANGKALPINANG,www.wowbabel.com -- Permintaan ekspor udang vaname di Indonesia sedang banyak diminati berbagai negara.  Dosen Jurusan Akuakultur Universitas Bangka Belitung (UBB), Robin mengatakan berdasarkan informasi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI, tiga besar produk biota laut hasil budidaya atau tangkapan yang sedang banyak diminati pada Indonesia, yakni pertama udang vaname, kedua ikan tuna, dan urutan ketiga yaitu kepiting rajungan. Permintaan ekspor udang terbanyak berasal dari negara-negara eropa, Jepang, China, dan sekitarnya.

Robin menyampaikan permintaan dunia untuk vaname banyak sekali, dan hingga sekarang ini belum terpenuhi oleh pasar. Provinsi Bangka Belitung (Babel) secara geografis sangat strategis untuk melakukan pengiriman-pengiriman jarak pendek ke Jakarta, Singapura, atau ke beberapa negara tujuan yang di packing melalu Jakarta.

“Dan Bangka Belitung sebagai provinsi yang kaya akan lautnya yang masih bagus. Kondisi airnya ini sangat menjanjikan para pembudidaya ikan. Apa yang menyebabkan tambak udang ini menarik, yang pertama harga jual, produk budidaya yang mampu menyaingi harga timah adalah udang vaname salahsatunya, harga udang bisa diatas Rp 125.000 per kilogramnya,” ungkap Robin saat diwawancarai, Senin (16/11/2020).

Robin mengatakan, udang vaname dalam satu hektar bisa panen  kurang lebih 20 ton hingga 25 ton setiap tiga bulan. Menurutnya diperkiraan keuntungan bersih yang didapatkan dari satu hektar itu petambak bisa satu miliar rupiah hingga 1,5 miliar rupiah per tiga bulan. Fenomena yang terjadi sekarang, petambak-petambak besar atau investor adalah pelaku tambang timah karena punya modal besar.  Karena  untuk membuka tambak berskala besar, saat ini membutuhkan modal yang besar, yaitu rata-rata di satu hingga dua miliar per hektar.

“Nah itu potensi yang pertama geografis, yang kedua harga jual, ketiga pasar yang selalu terbuka, selanjutnya kondisi kualitas air. Bangka Belitung kondisi kualitas airnya masih bagus untuk pertumbuhkembangnya udang ini, sehingga untuk kegiatan budidaya ini sangat menjanjikan dari segi keberhasilan, itu untuk tambak udang vaname di Babel dalam sisi potensi,” imbuhnya.

Ia menjelaskan terkait polusinya, kegiatan budidaya memang bisa di perbaharui dengan salahsatu jenis kegiatan ekonomi paling efektif di masa-masa sulit. Budidaya udang vaname ini bisa dibilang salah satu kegiatan dibidang perikanan terutama budidaya, yang mampu mengantisipasi penurunan ekonomi ditengah-tengah menurunnya harga timah. Kendati demikian, kegiatan budidaya tambak udang vaname tersebut bukan tanpa polusi jika tidak dikelola dengan baik dan benar, terutama dalam hal limbahnya.



MEDSOS WOWBABEL
OPINI KITE