Martabat Bangka Selatan dan Pilkada Bangka Selatan Bermartabat

Jurnalis_Warga    •    Selasa, 15 September 2020 | 13:44 WIB
Opini
Rusmin (Penulis buku yang tinggal di Toboali)
Rusmin (Penulis buku yang tinggal di Toboali)

DARI sejarah tempoe doloe yang dapat kita baca dari berbagai buku, catatan, cerita bertutur dan referensi ilmiah dengan tegas dan lugas ditulis , bagaimana rasa patriotisme dikalangan masyarakat Junjung Besaoh ini. Raden Keling, pemimpin rakyat daerah ini pada zaman itu, harus menewaskan Mr. Brown yang merendahkan martabat rakyat daerah ini. 

Sementara itu pada tanggal 22 desember 1825, Raden Ali dengan peralatan terbatas mampu mengambilalih Benteng Toboali yang dikuasai Belanda. Bagi kedua pendekar bangsa asal Toboali ini, martabat bangsa dan daerah Toboali harus dijunjung tinggi kendati nyawa menjadi taruhannya.

Sejarah telah menceritakan kepada kita, tentang perjuangan Raden Keling (yang masih bertalian keluarga dengan Sultan Badarudin ) yang merupakan petinggi di Toboali pada tahun 1812-1819. Raden Keling yang merupakan incaran Inggris, karena membunuh seorang Inspektur Tambang bernama Brown. Raden Keling juga memimpin pertempuran dengan Belanda di Toboali. Sebagai pembantu Sultan Mahmud Badarudin untuk daerah Pulau Lepar dan Toboali, Raden Keling dengan dibantu oleh Raden Ali dan Raden Badar membuat Belanda kocar kacir. Belanda baru dapat menaklukan Toboali menjelang ekspedisi terbesar ke Palembang dibawah pimpinan Panglima Angkatan darat Hindia Belnda Mayor Jenderal Baron De Kock.

Kehebatan perang di Toboali waktu itu digambarkan oleh Kolonel Du Peron (saat itu berpangkat kapten) secara realitis. " Dari 300 orang anggota garnizun hanya 8 orang yang sehat.Untuk itu terpaksa menarik pengawal-pengawal dari pasukan perahu kotak dan dari pasukan Raja Akil.Selama 7 bulan berada di Toboali,2/3 bagiandari sebuah kompi infantri yang anggotanya 183 tewas. Hampir seluruh detasemn infantri yang terdiri dari 30 anggota ikut tewas pula.

Pada sisi lain kita juga sangat paham, tahu dan ingat dengan R. Abdullah. Mengemban amanah sebagai Wedana Toboali, R. Abdullah memprakarsai pembangunan sebuah gedung pertemuan. Gedung pertemuan yang diberi nama gedung Nasional ini berhasil dikerjakan dalam kurun waktu dua tahun dan selesai pada tahun 1951. Dengan semangat gotongroyong yang merupakan roh dan jiwa masyarakat daerah ini, Gedung Nasional yang merupakan gedung nasional pertama yang dibangun di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sukses dan hingga kini berdiri dengan gagah di Toboali dengan diarsiteki oleh putra Toboali M. Yusuf Bahir yang saat itu bekerja sebagai karyawan PN. Timah Toboali dan Lie Yung sebagai kontraktor pembangunan.



MEDSOS WOWBABEL
OPINI KITE