Menilik Film Tilik, Narasi Kebiasaan Rumpi

Tim_Wow    •    Rabu, 26 Agustus 2020 | 15:43 WIB
Hiburan
Poster film Tilik.(ist)
Poster film Tilik.(ist)

Oleh : Luna Febriani (Dosen Sosiologi Universitas Bangka Belitung)


Media sosial akhir-akhir ini viral dipenuhi dengan sosok Bu Tejo yang memerankan pemeran utama dalam film pendek yang berjudul Tilik. Sosok bu Tejo yang dikenal dengan keceriwisan dan aksen yang kental akan bahasa Jawa-nya ini mampu membuat film Tilik dicari dan digemari oleh para nitizen, mulai dari anak muda hingga orang tua. Tilik, sebuah film pendek yang didanai oleh pemerintah daerah ini menawarkan warna baru bagi dunia perfilman dan hiburan bagi masyarakat. 

Baca Juga: Film ‘Tilik’ Jadi Viral di Media Sosial

Film, secara umum memiliki beragam fungsi bagi masyarakat, mulai dari fungsi informatif, edukatif, persuasif hingga fungsi hiburan. Selain fungsi tersebut, film dan masyarakat juga memiliki hubungan yang erat dimana film dan masyarakat saling mempengaruhi satu sama lain. Sederhananya,  narasi realitas sosial dalam masayarakat dapat melahirkan ide bagi cerita dalam suatu film (atau film dibentuk dari realitas masyarakat), namun disisi lain film juga dapat mempengaruhi dan membentuk masyarakat melalui nilai-nilai dan ideologi yang ada didalamnya. 

Terkait hubungan tersebut, dari film Tilik kita dapat melihat bagaimana film ini dibentuk berdasarkan realitas yang ada pada masyarakat itu sendiri. Film Tilik (yang berarti Menjenguk) menceritakan tentang realitas dan kebiasaan masyarakat desa di Jawa ketika terdapat anggota masyarakat yang sakit maka mereka akan secara sukarela menyumbang dana untuk menjenguk yang sakit, biasanya dana tersebut selain digunakan untuk membatu yang sakit juga digunakan untuk menyewa kendaaran yang akan mereka gunakan ke rumah sakit. Adapun kendaraan yang biasanya masyarakat gunakan adalah bus atau truk, ini karena bus dan truk dapat mengangkut banyak orang sehingga banyak anggota masyarakat yang dapat pergi untuk menjenguk. Realitas ini menunjukkan bahwa kolektifitas dan solidaritas masih dipegang erat oleh masyarakat di pedesaan Jawa. 

Selain kebiasaan tilik, film tersebut juga menarasikan tentang kebiasaan rumpi yang sering dilekatkan pada perempuan dan ibu-ibu. Truk gotrex yang digunakan ibu Tejo dkk untuk kerumah sakit dijadikan sebagai wahana ibu-ibu untuk saling bertukar informasi, bercerita hingga bergosip. Dalam truk tersebut, bu Tejo memulai berbagi cerita tentang perempuan desa yang cantik bernama Dian. Serita tentang Dian ini menjadi perhatian bagi ibu-ibu lainnya karena Dian merupakan perempuan desa yang dikenal cantik namun dirasakan ‘tidak jelas’ kehidupannya, yang mana dia sering terlihat keluar masuk mall dan hotel dengan orang yang lebih tua serta memiliki barang-barang mewah. Bahkan, saking menariknya cerita tentang Dian ini tak jarang menimbulkan perselisihan bagi ibu-ibu tersebut, terutama Bu Tejo dan Yu Ning. Gambaran ini menunjukkan bahwa, truk dapat menjadi ruang bagi ibu-ibu untuk bertukar informasi, meskipun informasi yang diterima belum tentu benar adanya, bahkan tak jarang dari pertukaran informasi tersebut dapat melahirkan perselisihan sesama mereka. 



Tags :
TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL