Partai Gerindra yang Menonton, Mungkinkah?

Jurnalis_Warga    •    Minggu, 23 Agustus 2020 | 15:00 WIB
Opini
Ilustrasi. (ist)
Ilustrasi. (ist)

Oleh: Ranto, S.IP., M.A (Dosen Ilmu Politik, Peneliti Demokrasi dan Pemilu)


Pilkada Serentak 2020 sudah di depan mata. Kalau tidak meleset dari jadwal semula, proses pendaftaran peserta pilkada mulai tanggal 4-6 September 2020. Artinya, waktu yang tersisa untuk menyiapkan kandidat yang bisa dilakukan oleh partai politik tinggal menghitung hari.

Baca Juga: Tak Mau Jadi Penonton Gerindra Siapkan Delapan Nama, Erzaldi : Biarin Aja Last Minute

Meskipun sudah memasuki fase last minute time, masih banyak partai politik yang memiliki potensi untuk mengusung kandidatnya belum memutuskan apapun. Partai Gerindra di Bangka Barat misalnya. Sebagai partai politik yang berstatus pemenang kedua perolehan suara terbanyak dari dukungan masyarakat di Bangka Barat-- setelah PDI Perjuangan di Pemilu Legislatif 2019 yang lalu-- tidak juga membuat partai besutan Prabowo Subianto menentukan sikap.

Mengapa partai dengan perolehan 4 kursi ini yang mampu mengutus kadernya memegang jabatan pimpinan legislatif sebagai wakil ketua DPRD Bangka Barat tidak berdaya? 

Pertama, kader internal yang disiapkan untuk  Pilkada 2020 ini sangat dibatasi. Menurut saya, pucuk pimpinan partai berlogo kepala burung garuda di Bangka Belitung yang dikelola oleh Erzaldi Rosman yang merupakan gubernur saat ini terlalu yakin kalau kader jagoannya seperti Safri akan mendampingi Sukirman di Desember 2020 nanti. Langkah ini kemudian otomatis mematikan langkah-langkah politik kader lainnya.

Kedua, dengan membatasi munculnya kader internal selain Safri, Gerindra juga cukup menutup diri bagi kandidat dari kalangan eksternal. Kepercayaan yang terlalu tinggi tadi kemudian tidak membuahkan hasil ketika Partai Nasdem memutuskan Bong Ming Ming sebagai bakal calon wakil bupati mendampingi  Sukirman nanti.

Akibatnya, dalam kurun waktu seminggu terakhir ini Gerindra mulai gelisah. Kegelisahan tersebut terendus dalam berbagai upaya untuk menawarkan figur baru yang semula tidak ada dalam radar bakal calon.

Ketiga, meskipun sudah membuka diri bagi pihak luar, Gerindra nampaknya masih memaksakan kadernya Safri untuk menjadi calon bupati. Padahal, ada sejumlah nama lainnya seperti Yusderahman, M. Ali Purwanto, Oktorazsari yang bisa disiapkan jika Safri kesulitan untuk mendapatkan mitranya di Pilkada 2020 ini.

Apa yang bisa disimpulkan dari fenomena ini? Kepemimpinan Partai Gerindra di Babel terlalu lemah untuk persiapan pilkada 2020. Dari semua skenario yang telah disiapkan, belum ada satu kabupaten pun kader Gerindra tampil sebagai kompetitor.



MEDSOS WOWBABEL