Siklus Kerugian PT Timah Tbk, Bak Menunda Kekalahan

Tim_Wow    •    Selasa, 04 Agustus 2020 | 17:11 WIB
Opini
Ilustrasi.(net)
Ilustrasi.(net)

Oleh Albana (Wartawan Senior di Bangka Belitung)


Medio April 2020, PT Timah Tbk merevisi  laporan keuangan tahun 2019. Dari untung menjadi buntung alias rugi. Nilainya menembus Rp 611,28 miliar. Kerugian perusahaan plat merah yang tahun itu juga dinobatkan sebagai produsen terbesar timah dunia.

Badai rugi belum berakhir. Memasuki 2020, PT Timah Tbk dengan kode TINS masih  menelan pil pahit, pada kuartal I 2020, TINS menanggung kerugian bersih sebesar Rp 412,85 miliar. Kendati masih harus merugi, TINS pada kuartal I 2020 membukukan pendapatan sebesar Rp 4,38 triliun atau secara persentase naik sebesar 5,2% dari pendapatan tahun sebelumnya.

Terekam dari laporan keuangan yang dipublikasi Kamis (30/7/2020), kerugian dipicu oleh rendahnya perolehan pendapatan perseroan selama semester I tahun ini sekitar 18,49% menjadi Rp 7,978 triliun dibandingkan kurun waktu serupa tahun lalu Rp 9,788 triliun. 

Kinerja operasional PT Timah Tbk tertekan sepanjang semester I-2020. TINS mencatat produksi bijih timah sebesar 24.990 ton atau turun 47,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya 47.423 ton.  Volume penjualan logam timah juga turun 0,3% menjadi 31.508 ton dari sebelumnya 31.609 ton. 

Pada semester I-2020, harga jual rata-rata timah sebesar US$ 16.461 per metrik ton, turun dari realisasi harga jual  rata-rata untuk enam bulan pertama 2019 yang mencapai US$ 21.505 per metrik ton.

Sekretaris Perusahaan PT Timah Tbk, Abdullah Umar Baswedan mengatakan, penurunan realisasi kinerja operasional TINS sepanjang semester I-2020 merupakan dampak dari pandemi virus corona (Covid-19).



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL