Sidang Kasus Tambang Ilegal Gunung Menumbing Digelar Secara Vicon

Tambang liar di kaki Gunung Menumbing Muntok.(ist)
Tambang liar di kaki Gunung Menumbing Muntok.(ist)

PANGKALPINANG,www.wowbabel.com -- Majelis Hakim Pengadilan Negeri Muntok, Bangka Barat menggelar sidang kasus perkara pidana perusakan hutan dari Pengadilan Negeri Muntok melalui konferensi video, Senin (11/5/2020).

Jaksa Penuntut umum mengikuti sidang dari Kejaksaan Negeri Muntok, para saksi yakni  Ossa Al Anhar (Polhut Balai Gakkum KLHK Sumatera) menyampaikan kesaksian dari ruang operasional Seksi III Balai Gakkum Sumatera di Kota Palembang, Ahmad Yani (petugas Satpol PP Bangka Barat) dan Supriyanto (petugas Salpol PP Bangka Barat) menyampaikan kesaksian dari Pengadilan Negeri Mentok.

Sementar aitu dua terdakwa masing-masing RAN (40) dan HAN (25) mengikuti sidang dari Rumah Tahanan Negara Kelas II B Muntok.

“Penggunaan konferensi video ini terobosan dalam penegakan hukum untuk tetap mengikuti prosedur dalam situasi pandemi Covid-19. Kami mengapresiasi Majelis Hakim Pengadilan Negeri Mentok Bangka Barat,” kata Eduward Hutapea, Kepala Balai Gakkum KLHK Wilayah Sumatera, menanggapi pelaksanaan sidang dengan konferensi video, Selasa (11/5/2020).

PPNS Ditjen Gakkum KLHK menjerat dua tersangka dengan Pasal 89 Ayat 1 Huruf a Jo. Pasal 17 Ayat 1 Huruf b, Undang-Undang No 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan, karena menambang dalam kawasan hutan tanpa izin Menteri. Mereka terancam hukuman pidana penjara paling lama 15 tahun serta pidana denda paling banyak Rp 10 miliar. 

Dua tersangka yakni  RAN dan HAN ditangkap petugas tanggal 18 Januari 2020 ketika sedang menambang di kawasan hutan Tahura Gunung Menumbing. Berdasarkan keterangan keduanya, mereka menambang di kawasan hutan sejak 12 Januari 2020. Dua tersangka dan barang bukti berupa peralatan penambangan, hasil tambang dan kendaraan roda dua milik kedua tersangka dibawa ke Pos Gakkum KLHK Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Kegiatan penambangan tergolong baru yaitu dengan membendung aliran air di Gunung Menumbing. Kemudian air dialirkan ke bawah gunung dengan selang yang diposisikan agar tekanan air kuat untuk disemprotkan ke arah bawah batu-batu gunung, batuan kemudian dipisahkan dari biji timah. Penambangan dengan memanfaatkan tekanan air tinggi tanpa mesin pompa membuat sulit terlacak ketika tidak ada suara mesin pompa dan bisa berpindah-pindah.

“Mengikuti arahan Menteri LHK, kami tidak akan berhenti mengawasi dan menindak pelaku kejahatan lingkungan dan kehutanan,” tukas Dirjen Gakkum KLHK, Rasio Ridho Sani.(rel/wb)

 



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL