Dialektika Politik Kaum Muda Dalam Negeri

Jurnalis_Warga    •    Kamis, 27 Februari 2020 | 10:10 WIB
Opini
Anggun Rotami, Mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Bangka Belitung. (Ist)
Anggun Rotami, Mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Bangka Belitung. (Ist)

JAUH sebelum Negara Indonesia merdeka, para pemuda kita telah memperlihatkan ketertarikan dan partisipasi politik yang amat tinggi. Bagaimana tidak, dalam rentan sejarah yang amat panjang, eksistensi pemuda dalam lapangan politik Indonesia tidak bisa diragukan lagi. Metamorfosa yang dialami telah sampai pada tahap dialektika dengan berbagai konteks sosial dan kultural yang mereka hadapi. Partisipasi politik pemuda yang amat tinggi merupakan manifestasi kesadaran diri yang paling absolut untuk meloncat keluar dari kurungan kolonialisme dan imperialisme barat.

Dalam perspektif sejarahnya, generasi pemuda sebelum kemerdekaan banyak menghabiskan waktu mereka untuk mengurusi permasalahan politik yang bersifat murni, baik mengenai kemerdekaan maupun upaya untuk membangun gerakan- gerakan perlawanan atas imperialisme penjajahan, bahkan tak jarang gerakan dan gagasan itu merujuk ke perlawanan terhadap penjajah yang bersifat non-kooperatif agar bisa terlepas.

Untuk mecapai eksistensi dalam berpolitik, maka diperlukan sebuah metode sintesis yang konseptual. Metode tersebut adalah dialektika. Dialektika adalah komunikasi yang dijalin dari dua arah. Dialektika juga dapat dikaitkan dengan ilmu pengetahuan tentang hukum yang paling umum,.dialektika merupakan wujud investigasi dari pemikiran masyarakat yang berfungsi mengatur perkembangan sekitar. Melalui dialektika, dua proposisi yang saling bertentangan akan menemukan sebuah afirmasi yang diidam-idamkan.

Dalam politik akan selalu ada yang namanya negasi atau membalikkan nilai dari suatu kebenaran. Konsep tersebutlah yang akan diafirmasi lagi oleh konsep-konsep yang dituangkan melalui dialektika. Terminologi yang sering kita dengar dan bicarakan terkait dialektika politik adalah tesis, antithesis, dan sintesis. Antitesis dan tesis diharapkan akan selalu berujung pada sintesis. Dengan demikian karakter konseptual ketiganya akan selalu membentuk sebuah hierarkisitas dalam proses berpikir politik.



MEDSOS WOWBABEL
OPINI KITE