Bersandar di Areal Tangkap Nelayan Tradisional, Puluhan KIP Bikin Menderita

Tim_Wow    •    Minggu, 26 Januari 2020 | 17:53 WIB
Lokal
Nelayan Pangkal Arang, Pangkalpinang beraktivitas disela-sela KIP yang sandar di alur Sungai Pangkalarang.(dag/wb)
Nelayan Pangkal Arang, Pangkalpinang beraktivitas disela-sela KIP yang sandar di alur Sungai Pangkalarang.(dag/wb)

PANGKALPINANG,www.wowbabel.com -- Himpunan Persatuan Nelayan Pangkal Arang Kota Pangkalpinang, mengeluhkan keberadaan Kapal Isap Produksi (KIP) dikawasan mereka, pasalnya Kapal tambang timah tersebut, bersandar di kawasan tangkap nelayan tradisional.

Akibatnya, mata pencaharian nelayan setempat terganggu, bahkan nelayan terancam kehilangan penghasilan jika KIP tidak segera hengkang.

"Ketika terjadi air pasang kami tidak bisa mencari ikan sama sekali, karena daerah tangkap kami di pinggir yang kini ditempati KIP. Kami ini nelayan kecil kalau melaut lebih jauh tidak mungkin. Pasang bubu dan jala tidak mungkin juga ditengah - tengah (alur sungai)," kata nelayan setempat, Hariyanto, Minggu (26/1/2020).

Ia dan nelayan lainnya, sambung Hariyanto, mengalami penurunan pendapatan yang cukup drastis, puncaknya beberapa hari terakhir saat jumlah KIP yang bersandar bertambah banyak dan mencapai 23 unit, karena lagi musim angin kencang.

"Biasanya sekali melaut itu minimal bisa menghasilkan Rp100 ribu, cukup untuk beli beras dan lauk pauk, tapi sekarang ini setengahnya pun tidak bisa lagi kami dapatkan," ungkapnya.

Untuk itu, nelayan berharap pemilik KIP maupun pemangku kepentingan, dapat segera mengambil langkah mengatasi persoalan tersebut.

"Kami minta KIP ini keluar dari sini, tolong lah. Kalau ini dibiarkan berlarut kami khawatir terjadi hal - hal yang tidak diinginkan," tegasnya.

Pantauan di lokasi, puluhan KIP dengan berbagai nama terparkir rapi di pinggir alur muara sungai Pangkalbalam. Kapal - kapal itu ditambatkan persis di pinggir sungai dengan memanfaatkan pohon - pohon bakau untuk mengikat tali tambang, agar KIP tak hanyut.

Beberapa nelayan terlihat memaksakan diri menjalankan aktifitas mereka seperti biasa, bahkan nekat masuk ke sela - sela KIP yang terparkir, meskipun potensi kecelakaan terkena tali tambang cukup besar terjadi.

"Kerugian kami cukup drastis belum lagi peralatan nelayan yang rusak akibat terkena potongan besi - besi kapal isap sisa perbaikan, karena dibuang begitu saja kesungai dan terkena jaring nelayan, sebab selama ditambatkan disitu mereka (KIP) juga melakukan perbaikan," ujar nelayan lainnya, Dikro.

Ketua Himpunan Persatuan Nelayan Pangkal Arang, Obi Ardi, mengatakan ada sekitar 200 nelayan yang tergabung dalam perhimpunan mereka dan setengahnya merupakan nelayan kecil.

"Yang benar-benar terganggu dengan KIP itu ada sekitar 64 nelayan, karena mereka ini mencari ikannya di pinggir bakau itu," tukasnya.(dag/wb)



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL