Bisakah Eskalasi Komitmen Menghindari Keputusan Investasi Proyek yang Merugi?

Jurnalis_Warga    •    Jumat, 13 Desember 2019 | 16:47 WIB
Opini
ilustrasi.(net)
ilustrasi.(net)

Oleh : Wella Natalia, Mahasiswi Jurusan Akuntansi UBB

Dalam setiap kasus, memiliki keputusan yang dibuat sebagai akibat dari keputusan yang dibuat sebagai akibat dari keputusan sebelumnya. Kunci untuk membuat sebuah keputusan dalam konteks dinamis adalah mampu untuk membedakan antara situasi dimana ketekunan akan dibayar dan situasi dimana ketekunan itu tidak terbayarkan.

Ketekunan yang salah arah dapat mengarahkan kita dan membuang-buang waktu,energi dan uang. Namun ketekunan yang terarah dapat mengantarkan bayaran yang pasti.

Keputusan investasi dan risiko investasi merupakan dua istilah yang oleh para investor sering dipergunakan untuk menganalisis suatu proyek investasi yang  akan dikerjakan.

Sebelum suatu proyek diputuskan oleh manajer investasi atau oleh perusahaan untuk dikerjakan atau tidak, maka terlebih dahulu dipertimbangkan atau  diproyeksi berbagai risiko dan peluang yang menguntungkan dari investasi itu sendiri. Dalam pengambilan keputusan investasi yang strategis dan taktis, para manajer perusahaan sering melakukan escalationcommitment (eskalasi komitmen) terhadap proyek-proyek investasi yang berisiko tinggi dan tidak memberikan feedback yang tinggi.

Dengan demikian eskalasi komitmen adalah komitmen seorang pengambil keputusan untuk tetap melanjutkan dan memperluas komitmen awalnya terhadap pelaksanaan suatu investasi proyek  atau usaha-usaha tertentu meskipun sudah tidak menguntungkan atau memberikan umpan balik yang negatif,meskipun keputusan tersebut kemungkinan akan mengakibatkan resiko kerugian  yang lebih besar lagi dikemudian hari.

Hasil dari sejumlah riset empiris menunjukkan bahwa para manajer cenderung melanjutkan komitmen awalnya dan mengeskalasi dana invetasi yang lebih besar untuk suatu proyek yang memberikan feedback negatif atau belum memberikan feedback seperti diharapkan.

Mereka sering kali tidak mempertimbangkan biaya-biaya yang dikeluarkan untuk proyek tersebut sebagai sunkcosts dalam keputusan investasinya (Staw 1976, 1981; Kanodiaetal. 1989; Brockner 1992; Ghosh 1997). Juga ditemukan bahwa para individu manajer yang tidak mencapai budgetgoals proyek investasi, cenderung melakukan eskalasi komitmen yang lebih besar.

Oleh karena itu perencanaan proyek yang matang saja tidak cukup, ada banyak hal yang menyebabkan gagalnya sebuah proyek. Bisa jadi diantara hal tesebut adalah sesuatu yang sangat kecil tetapi berakibat fatal jika dilupakan atau disepelekan oleh developer yang membangun sebuah sistem.

Pengambilan keputusan yang rasional berdasarkan teori ekonomi, berasumsi manajer perusahaan berusaha memaksimalkan keuntungan perusahaan. Manajer harus menginvestasikan dalam proyek-proyek yang memberikan keuntungan  terbesar bagi perusahaan dan secara periodik menilai kinerja ekonomis dari proyek-proyek itu dan harus meneruskan proyek-proyek menguntungkan untuk menghindari kerugian.

Mengingat masyarakat Indonesia tergolong berbudaya kolektivisme tinggi, mungkin hal-hal terkait budaya yang menerangkan mengapa subyek berpengalaman  mempunyai pertimbangan untuk melanjutkan proyek yang cenderung tinggi dibandingkan studi-studi lainnya yang dilakukan di negara barat.

 Implikasi dan Keterbatasan beberapa implikasi yang perlu dicermati adalah pertama, karena kecenderungan eskalasi komitmen yang semakin tinggi seiring semakin berpengalamannya para manajer, maka perlu sekali diupayakan penyelidikan dan penerapan cara de-eskalasi yang mampu mengurangi dampak eskalasi komitmen yang merugikan dalam pengambilan keputusan (Ghosh, 1996; Suartana, 2003; Effriyanti, 2005).

Untuk itu agar investasi proyek bisa menghasilkan tingkat pengembalian yang diharapkan di masa mendatang, investor harus melakukan analisis kelayakan investasi terlebih dahulu. Analisis kelayakan investasi dapat dipahami sebagai tindakan yang dilakukan untuk mengetahui prospek dari suatu proyek investasi yang mendasari pengambilan keputusan diterima atau ditolaknya investasi tersebut.

Sebelum mengambil keputusan investasi, penting untuk dilakukan analisis kelayakan agar dapat menghindari penanaman modal pada proyek atau kegiatan yang tidak menguntungkan.(*)

 



MEDSOS WOWBABEL
OPINI KITE