Justiar: Komitmen Santri Sebagai Generasi Pencinta Tanah Air Tak Pudar

Aston    •    Selasa, 22 Oktober 2019 | 12:13 WIB
Lokal
Bupati Basel Justiar Noer foto bersama di Hari Santri Nasional di Bangka Selatan. (Astoni/wowbabel)
Bupati Basel Justiar Noer foto bersama di Hari Santri Nasional di Bangka Selatan. (Astoni/wowbabel)

TOBOALI, www.wowbabel.com --  Bupati Bangka Selatan (Basel), Justiar Noer mengatakan bahwa santri merupakan generasi cinta terhadap tanah air. Hal itu sebagaimana dikatakan Justiar dalam peringatan Hari Santri Nasional 2019 yang digelar Pengurus Cabang Nahdatul Ulama (PCNU) bekerja sama dengan Kementerian Agama (Kemenag) Basel, Selasa (22/10/2019). 

"Sampai hari ini pun komitmen santri sebagai generasi pecinta tanah air tidak kunjung pudar. Sebab, mereka masih berpegang teguh pada kaidah hubbul wathan minal iman atau cinta tanah air sebagian dari iman," kata Justiar kepada wartawan.

Disamping itu, Justiar Noer mengingatkan masa perlawanan kultural di masa penjajahan, perebutan kemerdekaan, pembentukan dasar negara, tercetusnya Resolusi Jihad 1945, hingga melawan pemberontakan PKI tidak lepas dari peran kalangan pesantren.

Menurutnya, para santri mendapatkan bimbingan, teladan dan transfer ilmu langsung dari kiai. Pesantren juga menerapkan keterbukaan kajian yang bersumber dari berbagai kitab, bahkan sampai kajian lintas mazhab. 

Lanjutnya, ketika muncul masalah  para santri menggunakan metode bahsulmasail untuk mencari kekuatan 
hukum dengan cara meneliti dan mendiskusikan secara ilmiah sebelum menjadi keputusan hukum. 

"Melalui ini para santri dididik untuk belajar menerima perbedaan, namun tetap bersandar pada sumber hukum yang otentik, " ujarnya.

Lebih lanjut kata Justiar, para santri biasa diajarkan untuk khidmah ini merupakan ruh dan prinsip loyalitas santri yang dibingkai dalam paradigma etika agama dan realitas kebutuhan sosial. 

"Pendidikan kemandirian, kerja sama dan saling membantu di kalangan santri lantaran jauh dari keluarga, santri terbiasa hidup mandiri, memupuk solidaritas dan gotong-royong sesama para pejuang ilmu, " tuturnya.

Gerakan komunitas seperti kesenian dan tumbuh subur di pesantren. Seni dan sastra berpengaruh pada perilaku seseorang, sebab mengekspresikan perilaku yang mengedepankan pesan keindahan, harmoni dan kedamaian. 

"Lahirnya beragam kelompok diskusi dalam skala kecil maupun besar untuk membahas hal-hal remeh sampai yang serius. Dialog kelompok membentuk santri berkarakter terbuka terhadap hal-hal berbeda dan baru," ujarnya.

Ia menambahkan, relasi agama dan tradisi begitu kental dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Pesantren menjadi ruang yang kondusif untuk menjaga lokalitas di tengah arus zaman yang semakin pragmatis dan materialistis. 

"Prinsip maslahat atau kepentingan umum merupakan pegangan yang sudah tidak bisa ditawar lagi oleh kalangan pesantren. Tidak ada ceritanya orang-orang pesantren meresahkan dan menyesatkan masyarakat. Justru kalangan yang membina masyarakat kebanyakan adalah jebolan pesantren, baik itu soal moral maupun intelektual," pungkasnya. (ADV)



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL