Ini Cara Pengecer Mendapatkan Gas Melon

Keluhan warga Muntok yang kesulitan mendapatkan gas melon di medsos.(ist)
Keluhan warga Muntok yang kesulitan mendapatkan gas melon di medsos.(ist)

MUNTOK, www.wowbabel.com -- Beberapa pekan terakhir, warga di Kota Muntok, Bangka Barat mengeluh lantaran sulitnya memperoleh gas elpiji ukuran 3 kilogram atau yang lebih dikenal gas melon. Selain langka, kalaupun ada harganya diatas Rp 20.000 per tabung.

Sulit dan mahalnya gas melon ini diduga lantaran banyaknya toko yang bukan pangkalan gas menjual gas melon. Sehingga harga yang beredar di masyarakat di atas HET yang ditetapkan yakni Rp 18.000 per tabung.

Pemerintah daerah sudah mulai menertibkan dan melakukan pengawasan, bahkan Ketua Tim Satgas Pangan Kabupaten Bangka Barat (Babar), AKP Rais Muin menegaskan pangkalan gas tidak resmi dilarang menjual gas melon. Jika ditemukan ada gas melon yang dijual di toko-toko yang bukan pangkalan resmi akan ditindak tegas.

Namun kenyataannya, toko-toko tertentu masih saja menjual gas melon secara eceran.  Seperti yang dilakukan seorang ibu yang mempunyai toko Za di Muntok. Ia mengaku telah lama menjual gas melon di tempatnya meskipun tokonya bukanlah pangkalan gas.

"Dulu lah lebih lima tahun kami jual gas ini, cuma dulu gak banyak lakunya gas lagi mudah nyarinya tidak macam sekarang ini lah susah, dulu paling setiap laku itu satu dua saja tidak banyak," ungkapnya kepada wowbabel.com, Selasa (15/10/2019).

Si pengecer mengungkapkan bisa mendapatkan gas melon untuk jual eceran dari sebuah pangkalan gas di Muntok yang tak jauh dari tokonya.

"Di pangkalan itu, seminggu itu pasti datang gasnya dua kali, Hari Senin dan Kamis. Kadang datangnya tengah malam, pernah tidak tentu tapi kita kalau gas datang bapak (pemilik pangkalan—red) langsung mengabari lewat telepon untuk segera mengambil ke pangkalan,” tuturnya.

Si pengecer mengatakan pangkalan telah menganggap tokonya sebagai pelanggan tetap pengecer gas melon, sehingga selalu dihubungi jika gas melon tiba di pangkalan.

"Kalau kami ngambilnya memang tidak banyak dikasihnya kadang lima kadang juga ada tiga atau dua dapatnya. Tapi kalau pengerit itu cuma dikasih satu. Mereka antrean bisa mencapai puluhan orang. Kalau kami sudah tidak pakai KTP atau KK lagi karena sudah dianggap langganan,” ungkapnya.

Ia menuturkan gas melon yang didapat dari pangkalan harganya Rp 18.000 kemudian untuk dijualnya kembali menjadi Rp 20.000,

Kendati demikin sang pemilik toko tidak menjualnya kepada sembarang orang. "Kami tidak menjual untuk orang PNS atau pejabat. Gas ini kan untuk rakyat miskin jadi tetap kami jual untuk orang miskinlah kami juga ngerti, cara nolaknya kalau PNS atau orang kaya mau beli kami bilang saja habis kosong atau sudah dipesan orang. Paling kami jual untuk orang di sini yang memang membutuhkan,” terangnya.

Si pengecer menuturkan tidak tahu bahwasanya gas melon tidak diperbolehkan untuk dijual kembali setelah diambil dari pangkalan.

"Tapi banyak bukan kami saja toko yang jual gas ini, kami ditawarin mau tidak jual gas setelah minyak tanah tidak ada lagi jadi digantinya gas. Dulu ibu tidak ada modal kalau mau buka izin pangkalan modalnya mau dua puluh jutaan,” tuturnya.

"Jaman dulu gas inikan cukup, senang lancar tidak seperti sekarang, rebutan. kalau ada diberi pemerintah jual gas kita mau dibuatkan izin pemerintah, kita mau, tapi karena kami tidak punya modal hanya bisa beli tengki saja modalnya," tukasnya.(rul/wb)



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL