PT RBT dan ACL Juga Sudah Ekspor Timah

Abeng    •    Kamis, 03 Oktober 2019 | 16:36 WIB
Ekonomi
Balok Timah.(net)
Balok Timah.(net)

JAKARTA,www.wowbabel.com --  PT Timah Tbk tidak lagi menjadi satu-satunya eksportir timah batangan di Indonesia. Ternyata sejak September 2019, PT Rafined Bank Tin (RBT) dan PT Artha Cipta Langgeng (ACL) sudah melakukan ekspor timahnya.

Ekspor timah kedua perusahaan smleter swasta itu diketahui setelah  sebulan peluncuran kontrak fisik perdagangan timah batangan di Jakarta Futures Exchange (JFX). Tercatat ekspor fisik timah melalui bursa JFX selama September 2019 sebanyak 9.000 ton.

Direktur Utama Jakarta Futures Exchange (JFX) Stephanus Paulus Lumintang mengatakan sejak diperolehnya izin JFX menjadi salah satu bursa penyelenggara perdagangan fisik timah dari pemerintah, antusiasme pasar cukup baik dan ramai pada perdagangan fisik timah melalui JFX.

 “Baru sebulan saja diluncurkan, tetapi total ekspor timah melalui JFX sudah mencapai 9.000 ton,” ujar Paulus saat perayaan hari ulang tahun JFX dan Kliring Berjangka Indonesia (KBI) di Jakarta akhir September lalu dikutip dari bisnis.com.

Adapun, ekspor timah tersebut, kata Paulus Lumintang berasal dari penjualan timah milik PT Timah Tbk, PT Refined Bangka Tin (RBT), dan PT Artha Cipta Langgeng (ACL).

JFX bersama dengan KBI mendapatkan izin menjadi salah satu penyelenggara perdagangan fisik timah dari pemerintah pada 6 Agustus 2019, kemudian pihaknya meresmikan peluncuran kontrak fisik timah tersebut dengan perdagangan yang sudah dapat dilakukan sejak 21 Agustus 2019. Peresmian tersebut juga ditandai dengan ekspor perdana timah batangan milik PT Timah sebanyak 1.410 ton di Pangkalpinang.

Paulus berharap dengan perdagangan fisik timah melalui JFX mampu memberikan nilai tambah untuk masyarakat Bangka Belitung sebagai lokasi tambang timah terbesar dan mampu meningkatkan harga timah.

Sebagaimana diketahui, aktivitas ekspor seluruh perusahaan peleburan (smelter) timah swasta di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terhenti sejak Oktober 2018. Terhentinya ekspor timah oleh smelter swasta karena perusahaan belum bisa memenuhi syarat tertentu. Persyaratan yang dimaksud adalah Competent Person Indonesia (CPI) Estimasi Cadangan, seperti yang diamanatkan dalam peraturan. Perusahaan smelter yang sudah memiliki CPI bisa melakukan ekspor karena untuk legalitas yang lain sudah dinyatakan memenuhi syarat.

Sedangkan harga timah dunia di pasar spot secara year to date sepanjang smester pertama 2019 tercatat turun 11,3%. Penurunan justru berdampak positif terhadap  kinerja PT Timah Tbk yang membukukan pendapatan senilai Rp 9.65 triliun atau 120,54 persen YoY dari sebelumnya Rp 4,38 triliun.

Kenaikan itu dipicu peningkatan penjualan dua produk yakni logam timah dan tin solder, yang hampir 98 persen untuk pasar ekspor, membukukan penjualan Rp 8,9 triliun atau naik 127,72 persen, serta pemasukan dari bisnis jasa galangan kapal senilai Rp 287,70 miliar, yang terlihat dari laporan keuangan perseroan yang dipublikasi awal pekan ini. (*)



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL