Tarif Angkutan Udara Berangsur Normal, Babel Mengalami Deflasi di Bulan Agustus

Yayuk    •    Selasa, 10 September 2019 | 21:02 WIB
Ekonomi
Ilustrasi
Ilustrasi

PANGKALPINANG, www.wowbabel.com - Pada bulan Agustus 2019, Bangka Belitung tercatat mengalami deflasi -0,18% (mtm) atau secara tahunan mengalami inflasi sebesar 3,64% (yoy). Deflasi pada bulan Agustus 2019 utamanya disumbangkan oleh sub kelompok tarif angkutan udara.

“Menurunnya permintaan terhadap angkutan udara serta adanya kebijakan pemerintah untuk menurunkan batas atas tarif angkutan udara mengakibatkan Bangka Belitung mengalami deflasi pada bulan Agustus 2019,” ujar Asisten Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Prov. Bangka Belitung, Edy Josinar Purba.

Secara spasial, baik Kota Pangkalpinang maupun Kota Tanjungpandan, keduanya mengalami deflasi di bulan Agustus 2019. Kota Pangkalpinang tercatat mengalami deflasi sebesar -0,10% (mtm) dengan inflasi tahunan sebesar 4,31% (yoy). 

Sementara itu, Kota Tanjungpandan mengalami deflasi lebih dalam dibandingkan dengan Kota Pangkalpinang, yakni -0,35% (mtm) dengan inflasi tahunan sebesar 2,43% (yoy).  Kondisi ini berbeda dengan kondisi nasional yang mengalami inflasi sebesar 0,12% (mtm) dengan inflasi tahunan sebesar 3,49% (yoy). 

Komoditas transpor, komunikasi dan jasa keuangan menjadi penyumbang utama pada deflasi bulan Agustus 2019, baik di Kota Pangkalpinang maupun Kota Tanjungpandan.  

Angkutan udara merupakan sub kelompok pada komoditas ini yang memberikan andil deflasi terbesar di bulan Agustus. Andil angkutan udara tercatat sebesar -0,17% (mtm) pada deflasi di Pangkalpinang, sebesar -0,43% (mtm) pada deflasi di Tanjungpandan dan sebesar -0,27% (mtm) pada deflasi di Bangka Belitung. 

Deflasi yang terjadi pada kelompok ini utamanya disebabkan karena terjadinya normalisasi permintaan transportasi terutama angkutan udara setelah bulan lebaran dan liburan usai. 

Selain itu kebijakan pemerintah untuk menurunkan batas atas tarif angkutan udara sejak dua bulan lalu telah memberikan dampak positif terhadap deflasi komoditas ini.

Serupa dengan kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan, kelompok bahan makanan juga mengalami deflasi sebesar -0,04% (mtm), berbeda dari bulan sebelumnya yang mengalami inflasi 0,20% (mtm). Bahan makanan tercatat memberikan andil deflasi sebesar -0,011%. Deflasi pada kelompok ini terutama didorong oleh deflasi pada komoditas sayur-sayuran. 

Berbeda dengan komoditas sayur-sayuran, cabai merah dan cabai rawit masih mengalami inflasi pada bulan Agustus. Inflasi cabai ini disebabkan adanya kemarau panjang dan pergeseran jadwal panen di sentra produksi sehingga suplai cabai dari sentra produksi menjadi berkurang. 

Sementara itu, sub kelompok ikan segara masih mengalami inflasi terutama di Kota Pangkalpinang. Ikan kembung, ikan kerisi, ikan tongkol dan ikan hapau merupakan komoditas dari sub kelompok ikan segar yang berada dalam sepuluh komoditas penyumbang inflasi pada bulan Agustus 2019 di Kota Pangkalpinang.

Pada bulan September 2019, Bangka Belitung diperkirakan akan kembali mengalami deflasi sehubungan dengan tidak adanya event besar atau hari raya keagamaan. 

Selain itu, beberapa komoditas pada bahan makanan juga diperkirakan akan mengalami deflasi seiring dengan akan terjadi panen raya beberapa komoditas seperti cabai dan bawang merah pada bulan September. 

"Namun, tetap perlu diwaspadai ancaman gagal panen mengingat tahun 2019 terjadi musim kemarau yang cukup panjang dan masih berlangsung hingga saat ini. Selain itu sub kelompok ikan segara juga perlu terus diwaspadai mengingat sampai dengan bulan Agustus 2019 beberapa jenis ikan masih memberikan sumbangan inflasi cukup besar terutama di Kota Pangkalpinang," ungkapnya.

Sedangkan biaya pendidikan akan mengalami normalisasi setelah satu bulan berjalan untuk tahun ajaran baru. Melihat kondisi tersebut, diperkirakan inflasi Bangka Belitung masih dalam rentang inflasi yang diharapkan yaitu sebesar 3,5% ± 1% (yoy).

Dalam rangka meningkatkan efektifitas pengendalian inflasi, upaya peningkatan ketersediaan pangan harus terus dilakukan mengingat adanya kemungkinan terjadi gagal panen akibat musim kemarau yang panjang di tahun ini. 

"Selain itu beberapa upaya lain juga harus dilakukan, antara lain, perlunya terobosan kebijakan atau program dalam pengendalian harga ikan, perlunya fokus pada review kegiatan perikanan, database perikanan khususnya komoditas konsumsi lokal pemanfaatan Tempat Pelelangan Ikan, analisa kendala yg dihadapi nelayan terkait perolehan hasil ikan, perlu sinergi program yang erat antara Babel bersama TPID Pangkalpinang dan Tanjungpandan, mengadakan kajian Potensi BUMD Pangan untuk menjembatani Pedagang Lokal dan Daerah Penghasil, penyebaran informasi Pasar Murah yang lebih masif dan terencana serta vi) menjaga harmonisasi Sinergi yg erat antara TPID dan Satgas Pangan Prov Babel," tutupnya. (Yayuk/wb)



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL