OPINI : Menguji Kepemimpinan Politik Belitung Timur

Jurnalis_Warga    •    Senin, 15 Juli 2019 | 16:27 WIB
Opini
Bambang Suherly, S. Ikom (Sekum MD KAHMI Beltim)
Bambang Suherly, S. Ikom (Sekum MD KAHMI Beltim)

KEPEMIMPINAN politik seringkali menjadi masalah yang tidak bisa dipahami oleh masyarakat pada umumnya. Karena kepemimpinan politik dipahami sebagai sesuatu yang elit, tersentuh oleh kalangan tertentu dan tidak memiliki hubungan yang secara langsung dapat mempengaruhi kehidupa masyarakat. Tidak berpengaruh pada berapa harga timah, sawit. Tidak berpengaruh pada harga sayur, tidak berpengaruh pada harga barang pokok, dan seterusnya.

Sehingga dalam proses perubahan atau pergantian kepemimpinan politik mulai dari tingkat desa, kabupaten, provinsi bahkan nasional, masyarakat cenderung apatis, apolitik, cuek, dan justru partisipasi politiknya lebih banyak dikendalikan oleh unsur-unsur pragmatis, misalnya politik uang dan transaksional. "Kamek dak diberik duit malas jok nak gi mileh mending aku pegi kulong atau gi ume jak", bahasa yang lumrah di warung kopi di Beltim.

Untuk merubah situasi kesadaran politik masyarakat tentang pentingnya kepemimpinan politik tidaklah semudah membalikkan telapak tangan ditengah gerusan pragmatisme yang selama ini dipraktekkan oleh partai politik hingga aktor-aktor lain yang berkepentingan terhadap kepemimpinan politik.

Siapa yang berkuasa secara ekonomi dan finansial serta memiliki banyak uang maka ia akan menguasai masyarakat sekitarnya. Pola penguasa ekonomi ini pernah dipraktekkan oleh kolonial Belanda. Mereka yang memiliki akses ekonomi juga menguasai akses politik. Sehinga orang miskin tidak punya peluang



1   2      3      4