TINS: Biar Tidak Monopoli, 40% Hasil Tambang Rakyat ke Swasta

Ilustrasi
Ilustrasi

PANGKALPINANG, www.wowbabel.com - PT Timah Tbk (TINS) akan menampung pasir timah hasil tambang rakyat di Bangka Belitung. Jumlahnya antara 60-70% dari produksi tambang rakyat, sisanya produksi tambang rakyat ini akan diserahkan kepada perusahaan peleburan swasta agar tidak terkesan terjadi monopoli.

Sesuai dengan rencana menggerek target penjualan logam timah dari RKAP pada 2019 sebesar 38.010 metrik ton menjadi 60.000 metrik ton, maka PT Timah Tbk membutuhkan tambahan produksi pasir dari tambang rakyat.

Direktur Keuangan TINS, Emil Ermindra mengatakan bahwa perseroan berencana membina dan menampung bijih timah sebesar 75% dari produksi yang dihasilkan oleh tambang rakyat atau alternatif lainnya adalah 60% dilakukan BUMN dan 40% swasta, supaya tidak ada monopoli.

Target penjualan tahun ini yang disusun sebesar 38.010 metrik ton tergolong rendah, sehingga harus dipacu lagi dengan berkaca pada hasil produksi tahun lalu mencapai 44.000 metrik ton. 

Menurutnya, potensi produksi pasar timah Indonesia mencapai 70.000 metrik ton.

“Saat ini, untuk melakukan proses produksi kapasitas ada batasannya pergerakan modal kerja berubah, dollar juga berfluaktif, untuk bisa efektif lebih cepat makanya memanfaatkan kapasitas produksi di lapangan yang ada (tambang rakyat),” jelas Emil beberapa waktu lalu dikutip dari Binis.com.

TINS juga tengah menyelesaikan pembangungan smelter untuk meningkatkan kapasitas produksi dengan menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) senilai Rp2,58 triliun. Anggaran capex tahun ini juga termasuk carry over dari tahun lalu yang belum terserap.

"Kami masih fokus untuk meningkatkan kapasitas produksi. Jadi tidak ada investasi aset yang lain-lain, jadi hanya untuk meningkatkan kapasitas produksi yang artinya kami harus tumbuh lebih tinggi lagi," katanya.

TINS tercatat memiliki 2 smelter yang berlokasi di Kota Mentok, Kabupaten Bangka Barat dan smelter yang berlokasi di Pulau Kundur dengan kapasitas produksi total masing-masing 42.000 metrik ton per tahun dan 12.000 metrik ton.

Selain itu, dalam upaya pengembangan bisnis, perseroan juga tengah membangun pabrik pengolahan dan pemurnian tembaga (smelter)mineral logam tanah jarang atau rare earth dan menargetkan pengerjaan smelter ini diharapkan dimulai tahun depan.

Pengembangan proyek percontohan telah dilakukan di Tanjung Ular, Bangka Barat untuk fasilitas pemisahan mineral jarang dari biji timah supaya bisa diolah menjadi individual mineral yang lebih baik dari logam timah sendiri. (*)



MEDSOS WOWBABEL
OPINI KITE