Presiden Pantau Kerja Gubernur dan Bupati Dongkrak Harga Karet

Tim_Wow    •    Minggu, 10 Maret 2019 | 11:46 WIB
Ekonomi
Presiden Jokowi mencoba menyadap karet di Banyuasin, Sumsel. (Ist)
Presiden Jokowi mencoba menyadap karet di Banyuasin, Sumsel. (Ist)

SUMSEL, www.wowbabel.com - Upaya pemerintah untuk menaikkan harga karet di antaranya mengurangi pengiriman bahan mentah ke luar negeri. Oleh sebab itu  industri berbahan  baku  karet  seperti industri  ban  kendaraan  untuk didirikan  di Indonesia.  

Upaya lainnya  Presiden Jokowi  memerintahkan  Badan  Usaha  Milik  Negara  (BUMN) untuk  menampung  karer  rakyat  dengan  harga  yang  wajar. Selanjutnya  upaya pemerintah  ini  diterapkan di  masyarakat  dan Presiden  akan  memantau  langsung  kinerja para Gubernur  dan  Bupati  untuk menjalankan  program  mendongkrak  harga  karet rakyat.

“Saya sudah perintahkan juga kepada Menteri Perindustrian jangan kita terlalu banyak kirim barang bahan mentah ke luar negeri,” ujar Presiden Jokowi saat silaturahmi dengan para Petani Karet Se-Provinsi Sumatra Selatan, di Pusat Penelitian Karet, Balai Pusat Penelitian Sembawa, Kabupaten Banyuasin, Sabtu (9/3/2019).

Presiden  Jokowi meminta dari sisi industri harus memiliki pabrik, entah untuk ban, untuk barang-barang yang lainnya, sehingga tidak  jauh-jauh menjual produk pruduk  bahan  baku  karet.

“Karena kalau pasar dunia itu memang mengatur, senangnya mengatur. Kelihatan stoknya banyak, sudah tahan dulu, harga jatuh baru dia beli. Ini pasar di dunia mesti seperti itu cara mainnya,” kata  Presiden Jokowi menjelaskan mengenai pasar dunia yang belum normal.

Selain untuk aspal, menurut Presiden, pemerintah ingin segera memiliki industri yang berkaitan dengan bahan baku karet.

“Saya sudah paksa BUMN kita, entah itu PTP dan lain-lain, untuk membeli karet-karet yang ada di rakyat. Beli dengan harga yang baik, simpan dulu enggak apa-apa,” ujarnya.

Menurut Presiden Jokowi, BUMN punya kekuatan untuk menyimpan bahan dan  membeli dengan harga yang baik. Suatu saat harga di dunia, sambung Presiden, karena bahan enggak ada, baru dilepas.

“Sehingga petani mendapatkan keuntungan juga dari pembelian BUMN tadi. BUMM tahu nggih? Tahu? Ya, oke, BUMN kita,” tambahnya.

Kalau sudah ketemu jalan keluar, lanjut Presiden, produsen nanti mengendalikan suplainya sehingga negara lain yang membutuhkan, bukan negara produsen yang membutuhkan.

Hal yang sama dengan karet  ini, Presiden mencontohkan, terjadi pada sawit dan cabai. 

“Begitu produksinya tinggi harganya jatuh, bareng-bareng sakit semua. Ini memang kita senangnya kayak itu,” ujarnya.

Memang, lanjut Presiden, mengendalikan itu yang tidak gampang, "Kalau mau menaikkan bisa saja, nanti suplainya dipegang, barang di pasar turun, harga pasti naik" tukasnya.

Kepala Negara juga bercerita saat ke Dompu tentang harga jagung  di awal tahun 2015 sempat turun. 

“Setelah itu, 3 bulan setelah itu kita rancang, saya buat peraturan presiden harga jagung minimal HPP Rp2.700, saya buat Rp2.700,” tambahnya.

Karet, lanjut Presiden, diharapkan nantinya   akan  diatur agar produksi tidak terlalu banyak.

“Mestinya sebagian lahan yang belum ditanami karet kita akan arahkan ke dalam tanaman yang memiliki nilai tinggi, pasarnya juga masih memerlukan, dan tidak juga menunggu dalam jangka yang lama,” ujarnya.

Presiden juga menyampaikan bahwa dalam dua – tiga minggu ke depan Menteri Pertanian akan mengirim pupuk subsidi kepada petani  di Musi  Banyuasin 

Saat dialog, petani karet, Farid Bani Adam,  menyampaikan keinginan kenaikan harga karet.

"Persoalan karet ini bukan persoalan dalam negeri, ini persoalan global, Thailand juga kena, Malaysia juga teriak-teriak juga, negara-negara di Amerika Latin yang tanam karet juga kena, kena semuanya. Jadi,  inilah tadi yang sudah disampaikan usaha-usaha pemerintah untuk mendongkrak harga karet itu" jawab  Jokowi.

Ia mengharapkan nanti setelah kebijakan-kebijakan tadi diterapkan harga karet bisa  merangkak naik.

Saat dialog kedua dengan petani karet Kabupaten Banyuasin, Masriah, Presiden mendengarkan untuk pengolahan karet menjadi produk souvenir. Pada kesempatan itu, Presiden menyampaikan bahwa kelompok UKM yang berjumlah 30 orang tersebut akan dikirimkan tim untuk membantu pengolahan karet.

Di akhir sambutan, Presiden ingin agar penjelasan yang disampaikan dimengerti oleh semua.

“Saya akan mengikuti proses-proses yang ada di urusan karet ini, baik nanti lewat Pak Gubernur, Pak Bupati, juga di lapangan. Akan saya pantau terus agar harga yang sudah mulai membaik ini jangan sampai kembali turun lagi, harus terus didongkrak agar naik,” pungkas Presiden Jokowi  dikutip  dari  humas seskab.go.id 

Turut hadir dalam acara temu  petani Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Seskab Pramono Anung, Koordinator Staf Khusus Presiden Teten Masduki, dan Gubernur Sumsel Herman Deru. (*)



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL